Robot penjelajah NASA telah mengungkap detail dan gambar close-up yang memukau dari Mars dan bulan, namun eksplorasi planet lain berjalan lambat. Sebagian besar rover dikendalikan dari jarak jauh dari Bumi, dan desainnya yang hati-hati serta efisien energi membatasi jarak yang dapat dijangkau.
Kini, riset terbaru dari Universitas Basel, ETH Zurich, dan Badan Antariksa Eropa, yang terbit Selasa di jurnal _Frontiers in Space Technologies_, mengkaji bagaimana robot yang mampu “berpikir” mandiri dapat membantu kita menyisir permukaan planet dengan jauh lebih cepat.
Karena rover dirancang dan diarahkan dengan cara tertentu, eksplorasi sering kali terbatas, menyulitkan pengumpulan data dari area planet yang luas. Transmisi data melintasi jarak amat jauh antara Bumi dan benda langit lain juga memakan waktu cukup lama.
“Rover dirancang untuk efisiensi energi dan keamanan, serta bergerak perlahan di medan berbahaya,” ujar para peneliti dalam sebuah pernyataan. “Di sini, kami menguji pendekatan yang berbeda.”
Mereka bereksperimen dengan “penjelajah robotik semi-otonom” yang dapat menyelidiki beberapa target dan mengumpulkan data tanpa diberi tahu kemana harus pergi.
“Hasilnya menunjukkan bahwa robot semi-otonom yang dilengkapi instrumen kompak dapat secara signifikan mempercepat prospeksi sumber daya dan pencarian ‘biosignature’ (bukti kehidupan) di permukaan planet,” tulis para peneliti.
Jadi, alih-alih dikendalikan manusia dari jarak jauh, para peneliti menemukan bahwa robot yang dilengkapi peralatan tepat dapat bernavigasi di permukaan dan mengumpulkan data di berbagai lokasi secara mandiri.
Menguji Otonomi
Para peneliti menggunakan robot berkaki empat yang dilengkapi lengan robot. Robot yang diprogram untuk bekerja tanpa campur tangan manusia ini membawa kamera khusus dan spektrometer, yang dirancang untuk mengidentifikasi berbagai material.
“Otonomi robot terbatas pada eksekusi perintah yang telah ditentukan, termasuk lokomosi, navigasi ke waypoint, penyebaran instrumen, dan pengembalian data,” tulis para peneliti dalam makalahnya.
Untuk menguji robot, tim menggunakan fasilitas Marslabor di Universitas Basel, Swiss. Fasilitas ini mensimulasikan kondisi permukaan planet dengan lingkungan berbatu dan pencahayaan khusus.
Robot bergerak melalui fasilitas menuju target terpilih, seperti jenis batuan tertentu yang tersembunyi di lanskep. Kemudian, ia menggunakan lengan robotnya untuk menyebarkan instrumen sains dan mengirimkan gambar serta data untuk dianalisis.
Para peneliti membandingkan strategi baru ini dengan pendekatan lebih tradisional: ilmuwan mengarahkan robot untuk mengeksplorasi satu target pada satu waktu.
Para peneliti menemukan bahwa misi multi-target memakan waktu 12 hingga 23 menit bagi robot semi-otonom, sementara misi yang dipandu manusia memerlukan 41 menit untuk eksplorasi dan analisis serupa.
Maneuver di Bulan
Sementara kebanyakan rover menggunakan roda, penggunaan robot berkaki dapat lebih menguntungkan, tulis para peneliti. Sebab, beberapa sumber daya bulan ditemukan di medan sulit dijangkau dengan dinding kawah terjal, yang menjadi tantangan bagi robot beroda.
NASA juga telah mengembangkan rover otonom yang dapat menjelajah dan menggali di Bulan dengan arahan minimal dari manusia. Meski misi Artemis II saat ini tidak akan menggunakan rover bulan, robot-robot semacam ini dapat membantu mempersiapkan jalan bagi kehadiran manusia yang berkelanjutan di bulan.
Pada Desember lalu, NASA menggunakan AI untuk berhasil merencanakan rute bagi rover Mars, _Perseverance_. Tim menggunakan model AI Claude dari Anthropic dalam dua demonstrasi. Rover tersebut berhasil menavigasi rintangan di permukaan Mars dan melaju sejauh kira-kira 1.500 kaki tanpa masalah.