Mendapatkan wawancara dengan Sam Altman bukanlah hal yang mudah—cukuplah tanyakan pada Adam Bhala Lough, sineas di balik film dokumenter terbaru Deepfaking Sam Altman.
Awalnya, Lough merencanakan film panjang yang mengeksplorasi potensi dan bahaya AI yang berpusat pada percakapan dengan CEO OpenAI tersebut. Namun, setelah permintaanya diabaikan berbulan-bulan, ia memilih untuk membuat *chatbot* yang meniru pola bicara Altman dan mengaproksimasi ekspresi wajahnya melalui avatar digital.
Namun, Altman yang asli akhirnya berpartisipasi dalam film fitur baru *The AI Doc: Or How I Became an Apocaloptimist*, yang tayang di bioskop mulai 27 Maret. Demikian pula dengan Dario Amodei, CEO Anthropic, dan Demis Hassabis, salah satu pendiri dan CEO Google DeepMind Technologies. (Meski begitu, para pembuat film menyatakan permintaan wawancara dengan Mark Zuckerberg dari Meta dan Elon Musk dari X tidak mendapat respons.)
Ini adalah tingkat akses yang mengesankan untuk sutradara bersama dan protagonis dokumenter, Daniel Roher, yang film dokumenter 2022-nya, *Navalny*, tentang pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny, memenangkan Academy Award. Masalahnya, begitu mereka berada di depan kamera, Altman *dkk*. hampir tidak mengungkapkan hal baru—dan mereka menghindar dengan jawaban-jawaban fasih terkait tanggung jawab mereka terhadap umat manusia. Saat Roher menanyakan mengapa Altman pantas dipercaya memandu percepatan AI yang punya konsekuensi ekstrem, jawabannya singkat: “Kalian tidak harus percaya.” Pertanyaan itu pun berakhir di situ.
*The AI Doc* dibingkai oleh kecemasan Roher menyambut kelahiran putra pertamanya dengan sang istri, sineas Caroline Lindy. Ia bertanya-tanya dunia seperti apa yang akan diwarisi anaknya dan apakah kebangkitan kecerdasan buatan akan menghalangi pengalaman yang membentuk kita menjadi dewasa mandiri. Dalam beberapa wawancara pertamanya, semua ketakutan terburuknya seakan terbukti. Tristan Harris, salah satu pendiri *Center for Humane Technology*, menyampaikan pernyataan yang menghentak: “Saya kenal orang yang meneliti risiko AI yang tidak berharap anak-anak mereka bisa sampai ke bangku SMA,” ujarnya, menggambarkan skenario di mana teknologi meruntuhkan infrastruktur pendidikan tradisional.
Meski diwarnai kepanikan yang meningkat, Roher dan sutradara bersama Charlie Tyrell menyajikan kursus kilat tentang AI dan pertanyaan-pertanyaan besarnya dengan cukup komprehensif, dibantu oleh keteguhan Roher untuk mendefinisikan istilah dengan bahasa sederhana, bukan sekadar *buzzword*. Secara visual, film ini menawan dengan sentuhan manusiawi, menampilkan gambar-gambar dan lukisan warna-warni karya Roher, sementara sekues *stop-motion* yang imajinatif menunjukkan pengaruh produser Daniel Kwan, sutradara bersama pemenang Oscar *Everything Everywhere All at Once*. Kreativitas yang vibrant di tengah firasat malapetaka ini memberikan secercah harapan yang sedari awal dicari Roher.
Namun, wawancara-wawancara berikutnya dengan para teknoptimis Silicon Valley yang menjanjikan AI penakluk penyakit dan perubahan iklim—disusul oleh para CEO yang bersikap seperti biasa, antara *hype* dan kehati-hatian—lalu tanpa gugatan mendasar terhadap klaim-klaim muluk tersebut. Hampir tidak ada momen yang merenungkan mengapa atau bagaimana kita bisa berharap *large language model* yang rentan salah saat ini akan melahirkkan “kecerdasan umum buatan” (*artificial general intelligence* / AGI) mitis yang melampaui kognisi manusia. Yang ada, paling-paling, pengakuan samar (misalnya dari *venture capitalist* Reid Hoffman) bahwa segala manfaat akan disertai dampak buruk yang tidak dirinci.
Bahkan ketika para pemain papan atas menyatakan bahwa implikasi jangka pendek AI setara dengan munculnya senjata nuklir, mereka tetap berpegang pada pola lama, mempresentasikan produk mereka sebagai sesuatu yang sangat konsekuensial—dengan implisit bahwa hanya merekalah yang layak dipercaya untuk mengembangkannya.