loading…
Budi Setiyono, Sesmendukbangga/BKKBN. Foto: Istimewa
Budi Setiyono
Sesmendukbangga/BKKBN
Musim mudik hampir berakhir. Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa mudik tahun 2026 ini? Di satu sisi, mudik Lebaran selalu dirayakan sebagai tradisi tahunan yang penuh makna sosial dan budaya. Ini adalah momen untuk pulang, berkumpul, dan menguatkan ikatan keluarga. Tapi di sisi lain, dibalik hal-hal romantis itu, mudik 2026 menunjukkan kenyataan yang tidak bisa diabaikan lagi: Indonesia masih menghadapi tekanan serius dalam sistem mobilitas nasionalnya.
Tahun ini, berdasarkan data survei Kemenhub, jumlah pemudik diperkirakan mencapai sekitar 144 juta orang, atau lebih dari setengah penduduk Indonesia. Angka itu di kenyataannya bahkan bisa naik sampai 155 juta orang, mengikuti tren tahun-tahun sebelumnya yang sering melebihi prediksi. Pergerakan manusia dalam skala sebesar ini bukan cuma fenomena budaya—ini adalah peristiwa demografis yang besar dan punya dampak luas terhadap infrastruktur, ekonomi, dan tata ruang nasional.
Masalah pertama yang paling terlihat adalah konsentrasi arus mudik yang sangat tinggi di Pulau Jawa. Pergerakan didominasi oleh masyarakat dari daerah perkotaan seperti Jabodetabek yang menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jalur-jalur utama, baik tol maupun jalan arteri, menanggung beban yang jauh melebihi kapasitas idealnya. Keadaan ini menciptakan kemacetan panjang yang berulang tiap tahun, seolah-olah menjadi sesuatu yang terlihat “normal” saja.
Namun, kemacetan bukan inti masalah. Itu hanya gejala dari masalah yang lebih mendalam, yaitu struktur kependudukan dan mobilitas penduduk yang tidak seimbang. Dominasi kendaraan pribadi menunjukan bahwa transportasi publik belum menjadi tulang punggung mobilitas nasional, bahkan dalam situasi ekstrem seperti mudik.
Ketika sebagian besar masyarakat memilih atau terpaksa pakai mobil dan motor, beban pada jaringan jalan naik secara eksponensial. Ini tidak cuma bikin macet, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan, memperbesar konsumsi energi, penyebaran penyakit, dan menambah biaya sosial secara keseluruhan.