Jakarta (ANTARA) – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menekankan bahwa kegiatan belajar mengajar akan berlanjut di sekolah usai libur Idul Fitri.
Dia mengatakan rencana penerapan pembelajaran hibrida (daring dan luring) dibatalkan karena pertimbangan akademik dan kebutuhan memperkuat pembentukan karakter peserta didik.
"Berdasarkan hasil rapat antar kementerian tanggal 23 Maret, pembelajaran di sekolah akan dilaksanakan seperti biasa, dengan mempertimbangkan aspek akademis dan penguatan pendidikan karakter," jelasnya pada Rabu.
Pada kesempatan terpisah, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menyatakan bahwa kegiatan pembelajaran dapat berjalan normal, dengan siswa bisa datang ke sekolah untuk proses belajar.
"Pembelajaran siswa akan berlanjut seperti biasa," tegasnya.
Dia mencatat bahwa wacana penerapan pendekatan pembelajaran hibrida telah dikaji. Meski begitu, dia menekankan bahwa pembelajaran daring bukan prioritas untuk saat ini, mengingat pentingnya menjaga mutu pendidikan.
"Berdasarkan prioritas luar biasa presiden untuk sektor pendidikan, dimulai dari revitalisasi sekolah, Sekolah Rakyat, dan Sekolah Unggulan Garuda, kita harus mempercepat perbaikan kualitas pendidikan, di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi," paparnya.
Pratikno kemudian menyoroti pentingnya memastikan kelanjutan kegiatan pembelajaran seperti biasa.
Menurut dia, proses belajar harus dioptimalkan dan learning loss harus dihindari, dengan melanjutkan sekolah tatap muka bagi siswa.
"Serupa dengan layanan kesehatan esensial yang akan tetap beroperasi normal," ujarnya.
Sebelumnya, wacana memindahkan kegiatan belajar sekolah ke daring mulai April 2026 muncul seiring dengan kebijakan efisiensi energi pemerintah.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti, menyatakan ketidaksetujuannya dengan wacana tersebut, dengan mengatakan bahwa pembelajaran daring kurang efektif bagi siswa sekolah.
"Kita menerapkan pembelajaran daring selama pandemi COVID-19, dan kita tahu itu menciptakan tantangan besar bagi sistem pendidikan kita," ujarnya pada 23 Maret.
Tantangan tersebut mencakup kesulitan pemahaman siswa terhadap materi, masalah kedisiplinan, kekhawatiran pembentukan karakter, serta keterbatasan teknologi, antara lain.
Berita terkait: Program revitalisasi sekolah ciptakan lebih dari 238.000 lapangan kerja: pemerintah
Berita terkait: Prabowo targetkan reformasi sekolah menyeluruh, dorongan digital
Berita terkait: Kementerian-kementerian Indonesia bersinergi tingkatkan program olahraga sekolah
Penerjemah: Hana Dewi Kinarina, Resinta Sulistiyandari
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026