Konflik bersenjata di Iran mencapai tingkat eskalasi baru pekan ini, seiring serangan yang dilancarkan Israel dan Iran terhadap fasilitas produksi serta ekspor minyak dan gas. Serangan-serangan ini semakin meningkatkan tensi dalam sebuah perang yang telah membelit pasar energi dan komoditas, serta mengancam kesehatan jangka panjang ekonomi global. Pada Jumat lalu, Badan Energi Internasional merekomendasikan agar masyarakat bekerja dari rumah, mengemudi dengan pelan, dan menggunakan kompor gas seperlunya untuk meredam guncangan harga akibat krisis ini.
Situasi di Teluk Persia begitu ekstrem, menurut sejumlah analis yang diwawancarai WIRED, hingga hampir tak dapat dipercaya.
“Skenario semacam ini biasanya diberikan kepada analis minyak tahun pertama sebagai bahan diskusi, ‘Nah, jika ini terjadi…’ Ini merupakan eksperimen pikiran edukatif yang sangat menarik,” ujar Rory Johnston, peneliti pasar minyak asal Kanada. “Ini seperti bertanya, apa yang terjadi jika gravitasi tiba-tiba berhenti bekerja selama 10 menit? Hal-hal semacam itu diberikan kepada mahasiswa untuk memicu eksperimen pemikiran atas skenario ekstrem dan mengamati reaksi sistemnya. Saya tak pernah menyangka akan benar-benar menyaksikannya.”
Ellen Wald, konsultan energi dan geopolitik, sependapat. “Ini bagaikan salah satu simulasi permainan perang di pasar energi,” katanya.
Serangan awal terhadap Iran pada awal bulan ini secara efektif menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Selat ini merupakan urat nadi utama ekspor minyak dan gas bukan hanya dari Iran, tetapi juga negara-negara Timur Tengah lainnya. Sebagian besar anggota OPEC, kartel minyak dan gas terbesar di dunia, menggunakan selat ini untuk mengirim minyak dan gas keluar wilayah menuju konsumen. Selat ini juga merupakan pusat kritis untuk produk turunan minyak dan gas seperti bahan kimia industri dan pupuk. Penutupan selat ini menimbulkan guncangan pada ekonomi global: Pasca serangan awal, harga minyak melonjak di atas $100 per barel untuk pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
“Setiap kali ada aktivitas militer di Teluk Persia atau bahkan di Timur Tengah, pasar minyak cenderung menjadi sangat gelisah,” jelas Wald; penutupan selat itu merupakan pertanda bahwa perang ini dapat berdampak jauh lebih ekstrem dibandingkan konflik lainnya. Namun, pada beberapa minggu pertama, fasilitas produksi minyak sendiri sebagian besar masih belum tersentuh. “Minyak dan produknya tidak dapat keluar, dan beberapa negara tidak memiliki cadangan penyimpanan yang cukup, sehingga mereka terpaksa menghentikan produksi karena tidak bisa menyimpan minyak,” tambah Wald. “Tapi kondisi semacam itu pada dasarnya dapat dipulihkan dengan relatif cepat.”
Namun, dalam beberapa hari terakhir, serangan misil mulai menyasar infrastruktur minyak dan gas secara intensif. Pada Kamis, Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap berbagai fasilitas minyak dan gas di wilayah tersebut, yang paling menonjol adalah lapangan gas South Pars, lapangan gas alam terbesar di dunia yang dikelola bersama oleh Iran dan Qatar. Iran membalas dengan serangan balasan, termasuk terhadap fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia yang berada di Qatar. Harga minyak untuk sementara waktu melonjak hingga mendekati $120 per barel.
Serangan-serangan ini tampaknya telah merusak infrastruktur yang krusial bagi pasokan bahan bakar fosil dunia. Qatar menghasilkan sekitar 20 persen pasokan gas alam cair (LNG) global. CEO QatarEnergy, perusahaan minyak dan gas milik negara, mengatakan kepada Reuters bahwa serangan telah menghilangkan 17 persen kapasitasnya untuk lima tahun ke depan, dan bahwa perusahaan terpaksa menyatakan *force majeure* atas kontrak-kontrak dengan negara-negara di Eropa dan Asia akibat kerusakan tersebut.
“Begitu kita mencapai titik di mana kerusakan jangka panjang yang nyata terjadi, pemulihannya tidak akan mudah,” kata Wald. “Bahkan setelah konflik berakhir, kita masih mungkin mengalami periode harga minyak yang tinggi secara berkelanjutan semata-mata karena hilangnya produksi.”