Bitcoin jatuh dibawah $70,000 untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu minggu. Tekanan ini datang dari penjualan besar-besaran di pasar luas, karena serangan baru ke infrastruktur energi di Timur Tengah.
Mata uang kripto terbesar di dunia ini turun hingga 3,4% ke $68,799 pada hari Kamis, sebelum sedikit naik lagi. Bitcoin melanjutkan penurunan dari hari sebelumnya, saat mengalami penurunan terbesar dalam tiga minggu. Kripto lain seperti Ether, Solana, dan XRP juga turun.
Bitcoin telah diperdagangkan dalam kisaran yang cukup ketat, sekitar $65,000 sampai $75,000, selama dua bulan terakhir. Pada hari Selasa, nilainya sempat naik ke level tertinggi enam minggu di hampir $76,000. Ini menunjukkan pemulihan sejenak, tetapi koin ini belum bisa bertahan konsisten di atas level itu sejak Januari. Bitcoin masih turun sekitar 40% dari rekor tertingginya pada bulan Oktober.
“Kripto terkemuka ini punya ruang lebih untuk bergerak dalam kisaran $65,000 sampai $75,000,” kata Alex Kuptsikevich, analis pasar utama di FxPro. “Keluar dari kisaran ini mungkin butuh lebih banyak momentum untuk menentukan arah pasar untuk hari-hari atau minggu-minggu mendatang.”
Bitcoin umumnya bertahan lebih baik dari banyak aset tradisional selama perang di Timur Tengah, yang pecah akhir Februari. Ketegangan yang meningkat pada Kamis menyebabkan harga minyak melonjak lagi. Ini memicu sikap menghindari resiko di pasar global dan kekhawatiran bahwa bank sentral perlu mengetatkan kebijakan untuk mengendalikan inflasi.
“Bayangan stagflasi mengintai, kombinasi dari harga naik dan pertumbuhan mandek merupakan ancaman nyata,” ujar Susannah Streeter, strategi investasi utama di Wealth Club, dalam catatan pada hari Kamis.
Aliran dana ETF Bitcoin, yang menunjukkan tanda-tanda stabil dan pulih bulan ini, berbalik arah pada hari Rabu. Catatannya menunjukkan keluar dana sekitar $150 juta.