Kamis, 19 Maret 2026 – 18:31 WIB
Jakarta, VIVA – Cecep Nurwendaya, anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama (Kemenag) RI, menjelaskan bahwa tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesa belum memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
Dalam seminar di Kantor Kemenag, Jakarta, Cecep memaparkan data bahwa ketinggian hilal di Indonesia hanya berkisar antara 0,91⁰ hingga 3,13⁰. Sementara itu, elongasi atau jarak sudutnya antara 4,54⁰ sampai 6,10⁰.
Berdasarkan ketentuan MABIMS, awal bulan Hijriah baru bisa ditetapkan jika hilal mencapai ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
"Kalau data tadi digabungkan, di seluruh wilayah NKRI tidak ada yang memenuhi kriteria MABIMS untuk awal bulan kamariah," jelas Cecep.
Oleh karena itu, menurut perhitungan hisab astronomi, 1 Syawal 1447 H diperkirakan akan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Namun, keputusan akhir tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan membahas laporan pengamatan hilal (rukyat) dari 117 lokasi di Indonesia.
"Kesimpulan sementara, seluruh ibu kota provinsi di NKRI tidak memenuhi kriteria MABIMS untuk awal Syawal 1447 H," tegasnya.
Cecep menekankan kedua syarat—tinggi dan elongasi—harus terpenuhi bersamaan. Posisi hilal yang rendah akan kalah oleh cahaya senja, sehingga sulit terlihat. Sedangkan elongasi memengaruhi ketebalan hilal.
"Jika hilal sudah di atas 6,4 derajat, kemungkinan untuk terlihat akan lebih besar," pungkas Cecep Nurwendaya. (Ant)