Kekurangan Tembaga Ancam Ledakan Pusat Data A.I.

Kekurangan Tembaga Ancam Ledakan Pusat Data A.I.

Laporan baru menyatakan, kelangkaan logam industri tembaga yang makin parah bisa mengancam ledakan pusat data kecerdasan buatan (A.I.).

S&P Global (NYSE: $SPGI) memprediksi permintaan tembaga global akan naik 50% pada tahun 2040. Ini memperburuk krisis persediaan dan mengancam pembangunan pusat data A.I.

Laporan itu menyebut permintaan tembaga akan tumbuh dari 28 juta metrik ton per tahun sekarang menjadi 42 juta metrik ton pada 2040.

Tanpa investasi baru di pertambangan, persediaan logam merah yang banyak dipakai sebagai konduktor elektronik ini akan kekurangan 10 juta metrik ton dari permintaan global tahunan dalam 15 tahun.

Laporan terbaru tentang kekurangan tembaga ini muncul setelah Amerika Serikat menetapkan tembaga sebagai “mineral kritikal” pada November lalu. Ini pertama kalinya logam itu dapat status tersebut.

Pemerintah AS dikabarkan makin khawatir dengan kekurangan tembaga karena logam ini banyak dipakai untuk pusat data A.I., mobil listrik, dan sistem pertahanan.

Pusat data menghabiskan 4% listrik AS pada tahun 2024, menurut Pew Research Center. Angka itu akan mencapai 14% pada 2030.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan penggunaan listrik pusat data global akan berlipat ganda menjadi 945 terawatt-jam pada 2030. Ini meningkatkan permintaan untuk tembaga.

Permintaan yang tinggi dan terus tumbuh, ditambah keterbatasan pasokan global, telah mendorong harga tembaga naik signifikan dalam setahun terakhir.

Harga tembaga telah naik lebih dari 40% dalam setahun terakhir dan mencapai rekor tertinggi di atas $13.000 AS per metrik ton pada Januari ini.

Analis komoditas memperingatkan harga bisa naik lagi jangka pendek dan panjang karena pembangunan pusat data A.I. makin cepat di seluruh dunia.

MEMBACA  Data OpenAI: Ratusan Ribu Pengguna Tunjukkan Gejala Gangguan Kesehatan Mental

Tinggalkan komentar