Perang Iran sudah masuk minggu ketiga. Satu solusi yg kelihatan jelas untuk dapat energi lebih adalah minyak mentah dari Venezuela. Ini setelah pemerintahan Trump menahan pemimpin sebelumnya, Nicolás Maduro, dan mendesak agar sektor minyak negara itu dibuka kembali.
Masalah besarnya adalah, lebih banyak minyak dari Venezuela — atau dari sumber manapun di dunia — itu cuma seperti setetes air di dalam ember besar pasokan global. Ini dibandingkan dengan kerugian besar setiap hari dari Teluk Persia dan penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran.
“Ini masalah matematika,” kata Fernando Ferreira, direktur layanan risiko geopolitik di Rapidan Energy Group. “Hormuz mengalirkan sekitar 20 juta barel [minyak] per hari. Venezuela saat ini memproduksi sekitar 1 juta [barel per hari].”
Masalahnya adalah tidak ada alternatif lain untuk penutupan de facto jalur itu, yang dilalui sekitar 20% minyak dunia dan gas alam cair setiap harinya.
“Venezuela membantu; setiap sedikit bantuan itu penting. Tapi, dalam skema besar, itu tidak mengubah persamaan,” kata Ferreira ke Fortune. “Tidak ada solusi jangka menengah selain membuka kembali selat itu. Tidak ada hal lain yang akan menyelesaikan krisis.”
Skenario terbaik untuk produksi minyak Venezuela adalah tumbuh dari hampir 1 juta barel minyak per hari akhir tahun lalu, menjadi sekitar 1,2 juta barel per hari di akhir 2026, kata Francisco Monaldi, direktur Program Energi Amerika Latin di Baker Institute for Public Policy, Universitas Rice.
“Saya mengharapkan kurang dari 250.000 barel tambahan sepanjang tahun, jika ada. Itu tentu signifikan untuk negara yang cuma memproduksi 1 juta, tapi itu tidak ada apa-apanya untuk pasar dunia. Itu kurang dari 0,3%,” kata Monaldi, mengingat dunia mengkonsumsi sekitar 103 juta barel per hari. “Khususnya, sangat tidak signifikan dibandingkan dengan pasar yang terganggu.”
Sementara itu, Gedung Putih bertujuan membangun koalisi sekutu untuk mengontrol selat dan mengawal kapal tanker. AS juga sementara mencabut sanksi pada beberapa minyak Rusia — tapi itu cuma mempengaruhi tujuan dan harga, bukan volume minyak. Dan negara-negara anggota International Energy Agency setuju untuk melepas rekor tinggi, 400 juta barel minyak dari cadangan strategis, termasuk 172 juta barel dari AS.
Tapi, menarik minyak itu dari penyimpanan akan butuh setidaknya empat bulan. Dan meskipun pelepasaan darurat yang direncanakan membantu menjaga harga minyak tidak mencapai rekor tertinggi, patokan minyak mentah masih berkisar di dekat $100 per barel — naik hampir 70% sejak awal tahun.
Harga rata-rata satu galon bensin biasa tanpa timbal adalah $3,80 dan terus naik di AS — naik hampir 40% sejak titik terendah Januari — tapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan negara-negara Asia yang menderita karena harga jauh lebih tinggi dan antrian panjang untuk bahan bakar, sekolah ditutup, dan minggu kerja dipersingkat karena ketergantungan mereka yg lebih besar pada minyak Timur Tengah dan gas alam Qatar.
Pendekatan paling sukses sejauh ini adalah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mengalihkan aliran minyak mereka sebanyak mungkin dari Selat Hormuz lewat Pipa Arab Saudi Timur-Barat dan pipa Habshan–Fujairah milik UAE.
Tapi, masih hampir 14 juta barel minyak per hari yang terhambat, menurut analis energi.
“Jika pipa-pipa itu diserang, maka bisa lebih parah lagi,” kata Monaldi.
Serangan drone Iran menghantam Fujairah pada 16 Maret — meskipun bukan pipanya sendiri — memicu penangguhan sementara operasi pemuatan minyak.
Momentum positif di Venezuela
Bahkan jika pasokan Venezuela tidak akan membantu menyelesaikan krisis energi global, industri minyak dan gas negara itu menunjukkan kemajuan yang cukup cepat, kata para analis.
Dan pertumbuhan minyak dan gas di Amerika Selatan pada akhirnya bisa membantu dunia mengurangi ketergantungan pada pasokan Timur Tengah, kata Monaldi.
“Dalam jangka panjang, itu mengurangi risiko pasar minyak jika Venezuela memproduksi jauh lebih banyak,” katanya, menyebut negara penghasil minyak kunci lainnya. “Venezuela dan Brasil dan Guyana dan Argentina jauh dari konflik geopolitik ini.”
Venezuela masih memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia di atas kertas. Tapi industri yg sudah tua itu memuncak puluhan tahun lalu dengan output hampir 4 juta barel dan butuh investasi jauh lebih dari $100 miliar untuk mendekati kejayaan masa lalunya. Melakukan itu butuh beberapa tahun untuk terwujud.
“Produksi naik, tapi naiknya bertahap. Tidak ada kolam minyak rahasia yg bisa diakses Venezuela dan langsung dapat ratusan ribu barel per hari,” kata Ferreira. “Potensinya ada, tapi ini pekerjaan bertahun-tahun.”
Momentum sedang terbangun dengan Venezuela mengesahkan undang-undang baru untuk membuka industri bagi investasi luar. Chevron, satu-satunya produsen AS yg tidak meninggalkan negara itu selama masa ekspropriasi aset, telah setuju untuk memperluas proyek terbesarnya di Sabuk Orinoco Venezuela yang kaya minyak.
Juga, Shell berencana mengembangkan wilayah Venezuela yang lebih banyak gas — baik di darat maupun lepas pantai, yang akan lebih dekat ke Trinidad.
Exxon Mobil berencana mengirim tim kecil ke Venezuela untuk menilai situasi, meskipun CEO Darren Woods membuat Presiden Donald Trump marah pada Januari ketika dia bilang Venezuela saat ini “tidak bisa diinvestasikan” sampai reformasi besar diberlakukan.
Transisi politik yg sedang berlangsung dengan presiden Venezuela sementara Delcy Rodriguez berjalan sebaik mungkin sejauh ini, kata Ferreira. Perubahan harus terus berlanjut dan pada akhirnya membawa pemilu.
“Orang-orang yg pernah ke Caracas bilang kota itu terbuka untuk bisnis,” katanya.
Halo semuanyaa! Aku mau bagiin info ttg event musik nanti malam di taman kota.
Bakal ada band lokal yg bikin lagu2 pop sama rock. Tiketnya gratis loh, tapi cuma tersedia 200 tiket aja. Jadi, datang lebih cepat ya biar dapet tempat duduk.
Jangan lupa bawa selimut atau karpet buat duduk di rumput. Acaranya mulai jam 7 malem sampai jam 10. Ayo dateng yaa, pasti seru banget!