Harga minyak sudah lewati $100 per barel dan bisa menuju ke $150.
Selat Hormuz — jalur air sempit tempat sekitar seperlima suplai minyak dunia lewat — sekarang efektif tertutup untuk lalu lintas kapal tanker karena serangan AS-Israel ke Iran yang makin panas. Sekali lagi, ekonomi global menemukan kebenaran tidak nyaman yang sama: Keamanan energi modern tergantung pada rantai pasokan yang bisa putus dalam semalam.
Pola ini terlalu familiar. Guncangan geopolitik menghantam rantai pasokan minyak global, dan harga melonjak. Ini terjadi di tahun 1970-an, 1990, 2003. Dan terjadi lagi sekarang.
Sistem energi modern dibangun dengan asumsi sederhana: Bahan bakar diproduksi di beberapa tempat dan dikonsumsi di tempat lain. Minyak diambil di satu wilayah, disuling di wilayah lain, dan dikirim ribuan mil melalui pipa, terusan, dan titik sempat di laut sebelum sampai ke pengguna akhir.
Saat rantai itu bekerja, ia sangat efisien. Saat putus, efeknya menyebar ke seluruh dunia hampir dalam semalam. Jepang mengimpor sekitar 90 persen minyaknya dari Timur Tengah. Bangladesh telah menyeru penghematan BBM. Korea Selatan membatasi harga bensin untuk pertama kalinya sejak krisis keuangan Asia.
Masalahnya bukan cuma suplai minyak. Tapi struktur sistemnya sendiri. Dunia berjalan di model produksi bahan bakar terpusat yang didesain untuk geografi industri abad ke-20 — segelintir kilang raksasa memproduksi bahan bakar dalam volume besar yang kemudian harus bergerak melalui jaringan logistik global yang rapuh untuk sampai ke pasar. Model itu masuk akal secara strategis ketika kontrol atas cadangan minyak berarti kontrol atas energi. Tapi itu juga menciptakan sistem di mana satu terusan yang tersumbat, kilang rusak, atau jalur pelayaran tertutup bisa mengacaukan seluruh perekonomian.
Saat ini, alternatif mulai muncul. Di berbagai program pertahanan, lab penelitian industri, dan startup energi, sistem bahan bakar baru sedang dikembangkan yang bisa memproduksi bahan bakar sintetik secara lokal menggunakan karbon dioksida, hidrogen, dan listrik — memproduksi bahan bakar di tempat yang membutuhkan alih-alih mengirimkannya ribuan mil. Ide ini terdengar radikal. Pada kenyataanya, ini mencerminkan pergeseran besar yang sudah terjadi: dari produksi terpusat ke sistem terdistribusi. Tenaga surya mendesentralisasi pembangkitan listrik. Pusat data mendesentralisasi komputasi. Pergeseran serupa mungkin sekarang sedang terjadi dalam bahan bakar.
Sistem yang sedang terganggu ini sangatlah besar. Dunia mengkonsumsi sekitar 100 juta barel minyak per hari, didukung jaringan penyulingan, pengiriman, dan penyimpanan bernilai triliunan dolar yang dibangun di sekitar infrastruktur terpusat. Bahkan pergeseran kecil menuju produksi lokal akan jadi salah satu transisi industri terbesar dalam sejarah energi modern. Perluasan cepat infrastruktur AI sudah membentuk ulang permintaan energi global — pusat data bisa konsumsi hampir 1.000 terawatt-jam listrik per tahun pada 2030, kira-kira setara konsumsi listrik total Jepang — membuat sistem energi yang bisa menghasilkan listrik dan memproduksi bahan bakar secara lokal makin bernilai strategis.
Ekonomi dari pergeseran itu menjadi paling jelas di lingkungan di mana logistik tradisional macet. Di daerah terpencil atau bermasalah, biaya total pengiriman solar atau bahan bakar jet bisa mencapai $100 sampai $400 per galon setelah transport, perlindungan, dan penyimpanan diperhitungkan. Perencana militer sudah lama paham bahwa mengangkut bahan bakar sering lebih mahal — dan lebih berbahaya — daripada memproduksinya. Pentagon telah menetapkan produksi bahan bakar di lokasi sebagai prioritas strategis, mendanai pengembangan sistem yang bisa dipasang untuk menghasilkan bahan bakar jet atau solar langsung di lapangan. Usaha serupa muncul di Eropa dan Asia.
Para kritikus cepat menunjuk bahwa bahan bakar sintetik lebih mahal daripada yang konvensional — dan itu benar, untuk saat ini. Tapi perbandingan itu mengabaikan biaya penuh dari sistem yang ada, termasuk premi risiko geopolitik yang melekat dalam rantai pasokan minyak global. Satu keberatan umum adalah produksi bahan bakar sintetik membutuhkan ekosistem hidrogen hijau yang lengkap sebelum bisa layak. Sebenarnya tidak. Produksi bisa dimulai hari ini menggunakan bahan baku yang tersedia dan akan menjadi lebih bersih seiring membaiknya input.
Setiap generasi mengalami guncangan minyaknya sendiri. Setiap kali, pemerintah berebut menstabilkan pasokan sementara pasar menyerap dampak ekonominya. Yang berbeda sekarang adalah teknologi untuk mengubah struktur sistem itu mulai ada.
Keamanan energi secara historis berarti mengamankan akses ke cadangan minyak. Di era berikutnya, ia mungkin berarti hal yang berbeda: kemampuan untuk memproduksi bahan bakar di mana pun dibutuhkan, menggunakan sumber daya apa pun yang tersedia.
Negara dan industri yang mengembangkan kemampuan itu pertama kali akan punya keunggulan strategis yang berbeda. Mereka tak perlu mengontrol minyaknya. Mereka hanya perlu bisa membuat bahan bakarnya.
Pendapat yang diungkapkan dalam artikel komentar Fortune.com adalah murni pandangan penulisnya dan tidak selalu mencerminkan pendapat dan keyakinan Fortune.