Selasa, 17 Maret 2026 – 03:30 WIB
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, pada Senin menolak memberikan komentar tentang laporan media yang menyebut pemimpin baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, tiba di Moskow untuk perawatan.
“Kami sama sekali tidak mengomentari laporan seperti itu,” kata Peskov dalam konferensi pers di Moskow, seperti dilansir dari Anadolu, Selasa 17 Maret 2026.
Seperti diketahui sebelumnya, surat kabar Kuwait Al Jarida melaporkan bahwa Mojtaba Khamenei terluka akibat serangan lain yang dilancarkan AS dan Israel. Karena serangan tersebut, Mojtaba dibawa ke Moskow untuk menjalani perawatan medis.
Laporan itu juga menyebut otoritas intelijen Iran memilih memindahkannya ke Rusia karena khawatir fasilitas medis di dalam negeri bisa jadi sasaran serangan, mengingat Israel masih terus melakukan serangan udara yang menargetkan pimpinan tertinggi Iran.
Menyusul kabar tersebut, Kementerian Luar Negeri Iran membenarkan bahwa pemimpin baru itu memang mengalami luka dalam serangan dan saat ini kondisinya disebut baik. Namun, pihak kementerian tidak mengungkap lokasi keberadaan Mojtaba saat ini.
Dalam konferensi pers tersebut, Peskov menolak menanggapi pernyataan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, yang menuduh Moskow memasok drone ke Teheran. Dia justru balik menyerang Zelenskyy dengan pertanyaan tersebut.
“Silakan tanyakan kepada kepala rezim Kyiv dari mana dia mendapat informasi seperti itu. Kami tidak mengomentari pernyataan semacam itu,” kata Peskov.
Ketika ditanya tentang kelanjutan perundingan untuk mengakhiri konflik di Ukraina, Peskov menyatakan bahwa Rusia tetap terbuka untuk melanjutkan proses perdamaian dan saat ini menunggu putaran negosiasi berikutnya.
Dia menambahkan bahwa tempat dan waktu pertemuan selanjutnya masih belum disepakati.
Peskov juga menilai pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menunjukkan bahwa Ukraina menjadi hambatan utama dalam proses perdamaian.
“Dia (Trump) sangat mendorong Zelenskyy untuk mencapai kesepakatan. Dari pernyataan itu terlihat bahwa pihak Ukraina yang jadi penghambat utama dalam proses negosiasi,” ujar Peskov.
Sepanjang 2026, Rusia dan Ukraina telah beberapa kali menggelar perundingan damai yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Namun, proses tersebut sempat terhenti setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.