Sheryl Sandberg, mantan pejabat operasi utama di Meta (dulu Facebook) dan penulis buku motivasi Lean In, punya pendapat tentang budaya perusahaan terlalu maskulin di Silicon Valley. Menurut dia, itu salah satu yang terparah yang pernah dia lihat.
Sandberg, yang bekerja lebih dari 14 tahun sebagai COO Meta sebelum keluar di tahun 2022, bilang ke CNBC bahwa perusahaan di Amerika telah berubah secara budaya. "Kata-kata itu penting. Siapa yang bicara juga penting," jelasnya.
Dia bilang lingkungan kerja sekarang sangat buruk, tapi itu bukan alasan bagi perusahaan untuk tidak berbuat baik ke semua karyawan. Komentar Sandberg ini menarik karena bos lamanya, Mark Zuckerberg, justru mendukung lebih banyak ‘energi maskulin’ di dunia korporat.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump dan Gedung Putih juga sedang melawan program DEI (Diversity, Equity, and Inclusion) di sektor pemerintah dan swasta. Beberapa universitas besar seperti Northwestern dan Columbia sudah bayar jutaan dolar untuk berdamai dengan pemerintah.
Perusahaan seperti Northwestern Mutual juga sedang diselidiki karena kebijakan DEI-nya. Menurut studi Women in the Workplace tahun 2025, kemajuan perempuan di tempat kerja sekarang mandek. Setengah dari perusahaan yang disurvei tidak menjadikan kemajuan karier perempuan sebagai prioritas lagi.
Sandberg bilang ini seperti keadaan darurat untuk kesetaraan gender. Dia menekankan bahwa untuk sukses dan memimpin tim dengan baik, pemimpin harus kuat tapi juga empati dan baik. Kedua hal itu bukan hal yang bertentangan dan bukan cuma milik laki-laki atau perempuan saja. Pemimpin terbaik memiliki keduanya.
Cerita ini pertama terbit di Fortune.com tanggal 17 Desember 2025.
Lebih lanjut tentang budaya kerja:
Perang Iran menghidupkan kembali kerja remote di seluruh dunia.
95% karyawan ingin benefit berduka cita yang lebih baik.
Di era AI, rapat yang lebih baik bisa menjadi senjata rahasia perusahaan.