Rabu, 11 Maret 2026 – 10:48 WIB
Jakarta, VIVA – Tragedi longsor sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Kota Bekasi, mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyatakan insiden ini harus jadi momentum penting untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah di Jakarta.
Menurut Hanif, praktik pembuangan sampah terbuka atau *open dumping* yang selama ini dipakai di Bantar Gebang sangatlah berisiko dan perlu segera dihentikan.
Hal ini dia sampaikan setelah ikut kegiatan kerja bakti bersama Menteri Perdagangan dan Kapolda Metro Jaya di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu, 11 Maret 2026.
Dia mengungkapkan, TPST Bantar Gebang yang telah beroperasi lebih dari 37 tahun kini menampung tumpukan sampah yang sangat besar. Data Kementerian Lingkungan Hidup mencatat lebih dari 80 juta ton sampah telah menumpuk di sana.
Tumpukan sampah itu bahkan membentuk gunungan raksasa. Di area yang tidak aktif, ketinggian sampah capai sekitar 50 meter, sedangkan di zona aktif tingginya sudah tembus sekitar 73 meter.
“Suatu kondisi yang sangat berbahaya,” kata Hanif.
Hanif menjelaskan, longsor yang terjadi akhir pekan lalu dipicu hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut selama beberapa jam. Curah hujan yang berlangsung hampir setengah hari membuat tumpukan sampah bergerak hingga akhirnya runtuh.
“Kemudian pada hari Minggu, tepatnya setelah hujan berakhir jam 12.00, maka jam 14.30 terjadilah longsor yang telah menimbulkan korban jiwa,” tuturnya.
Ia menegaskan, kejadian ini tidak boleh terulang lagi. Menurut Hanif, sistem *open dumping* yang berlangsung bertahun-tahun di Bantar Gebang telah menyebabkan kerusakan lingkungan serius dan sekarang memakan korban jiwa.
“Secara sistematis dan terstruktur, kita wajib akhiri kegiatan *open dumping* di TPST Bantar Gebang,” katanya.
Hanif juga mengingatkan bahwa insiden ini menjadi salah satu tragedi sampah terbesar di Indonesia setelah longsor TPA Leuwigajah di Cimahi pada 2005 yang menewaskan 157 orang.
Oleh karena itu, pemerintah mendorong perubahan pola pengelolaan sampah di Jakarta dengan fokus pada penanganan dari sumbernya.
Saat ini, produksi sampah di Jakarta mencapai sekitar 8.000 ton per hari dari hampir 11 juta penduduk. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 ton berasal dari kawasan komersial seperti pasar, hotel, restoran, kafe, stasiun, hingga terminal.
Hanif meminta pengelola kawasan komersial mulai bertanggung jawab mengelola sampahnya sendiri. Selain itu, masyarakat juga didorong untuk memilah sampah dari rumah tangga agar volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir bisa dikurangi.