Dua Dekade Menelaah Perang AS: 6 Keunggulan Pertahanan Berjenjang Kunci Kemenangan Iran

loading…

Iran menerapkan sistem pertahanan mosaik hingga bisa lawan AS dan Israel. Foto/X

TEHERAN – Saat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bilang Teheran udah habisin dua dekade buat pelajari perang AS untuk bikin sistem yang bisa terus perang bahkan kalo ibukota dibom, dia nggak cuma ngomong soal ketahanan; dia jelasin logika doktrin pertahanan Iran.

Inti doktrin itu adalah apa yang disebut para pemikir militer Iran sebagai “pertahanan mosaik terdesentralisasi” – sebuah konsep yang berdasar di satu asumsi utama: bahwa dalam perang apapun sama Amerika Serikat atau Israel, Iran mungkin bakal kehilangan komandan senior, fasilitas utama, jaringan komunikasi, bahkan kendali terpusat, tapi harus tetep mampu terus berperang.

Artinya, prioritasnya bukan cuma mempertahankan Teheran, atau bahkan lindungi kepemimpinan tertinggi itu sendiri. Prioritasnya adalah menjaga pengambilan keputusan, menjaga unit tempur tetap beroperasi, dan mencegah perang berakhir cuma dengan satu serangan dahsyat.

Dalam hal ini, militer Iran nggak dibangun buat perang singkat. Militer Iran dibangun untuk perang yang panjang.

2 Dekade Pelajari Perang AS, Ini 4 Keunggulan Pertahanan Mosaik Kunci Kemenangan Iran

1. Mengandalkan Struktur Pertahanan Berlapis

“Pertahanan mosaik” adalah konsep militer Iran yang paling erat kaitannya sama Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), khususnya di bawah mantan komandan Mohammad Ali Jafari, yang memimpin pasukan itu dari tahun 2007 sampai 2019.

Idenyya adalah untuk atur struktur pertahanan negara jadi beberapa lapisan regional yang semi-independen, daripada memusatkan kekuasaan dalam satu rantai komando tunggal yang bisa dilumpuhin oleh serangan.

Dalam model ini, IRGC, Basij, unit tentara reguler, pasukan rudal, aset angkatan laut, dan struktur komando lokal membentuk bagian dari sistem yang terdistribusi. Kalo satu bagian kena serang, bagian lain tetap berfungsi. Kalo pemimpin senior tewas, rantainya nggak runtuh. Kalo komunikasi putus, unit-unit lokal masih punya wewenang dan kemampuan buat bertindak.

MEMBACA  Munculnya Perang Hibrida: Kontradiksi Sipil-Militer Sudah Tidak Relevan

2. Mempersulit Pembongkaran Sistem Komando

Doktrin ini punya dua tujuan utama: buat mempersulit pembongkaran sistem komando Iran dengan kekerasan, dan buat mempersulit penyelesaian medan perang dengan cepat dengan ubah Iran jadi arena berlapis yang terdiri dari pertahanan reguler, perang tidak teratur, mobilisasi lokal, dan perang gesekan jangka panjang.

Makanya pemikiran militer Iran nggak nganggep perang cuma sebagai kontes kekuatan tembak. Mereka nganggepnya sebagai ujian ketahanan.

3. Belajar dari Invasi AS ke Berbagai Negara

Pergeseran Iran ke model ini dibentuk oleh guncangan regional yang terjadi setelah invasi AS ke Afghanistan di tahun 2001 dan Irak di tahun 2003.

Tinggalkan komentar