Gejolak Pasar Energi, Rusia Genjot Pasokan Minyak dan Gas ke Negara Mitra Strategis

Selasa, 10 Maret 2026 – 10:01 WIB

Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa Rusia akan menambah pasokan minyak dan gas ke negara-negara mitra yang dianggap dapat diandalkan di berbagai belahan dunia. Hal ini disampaikan menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mengguncang pasar energi global.

Putin menekankan bahwa Moskow adalah “pemasok energi yang terpercaya” dan akan terus mengirim minyak dan gas ke “negara-negara mitra yang bisa diandalkan,” seperti negara-negara di kawasan Asia-Pasifik atau Slovakia dan Hongaria di Eropa Timur.

“Kami meningkatkan pasokan ke mitra-mitra terpercaya kami, dan itu dilakukan di beberapa wilayah sekaligus,” ujar Putin dalam pertemuan di Kremlin, Senin, seperti dilaporkan oleh TASS.

Ia kembali menegaskan bahwa Rusia sedang mempertimbangkan untuk mengalihkan pasokan gas dari Uni Eropa, setelah larangan atau sanksi penuh terhadap gas Rusia mulai tahun 2027 disetujui. Namun, ia menambahkan bahwa jika “pembeli dari Eropa” berubah pikiran, Moskow siap untuk kembali bekerja sama.

Putin menanggapi krisis energi yang terjadi sebagai dampak dari eskalasi di Timur Tengah, pasca serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Putin mengatakan bahwa Rusia telah “berkali-kali memperingatkan bahwa upaya mengacaukan situasi di Timur Tengah pasti akan membahayakan” pasar energi global, mendorong kenaikan harga dan membatasi pasokan.

Harga minyak telah melonjak melebihi $119 per barel, akibat dampak perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan pada pasokan energi dunia.

Lonjakan harga ini menandai pertama kalinya harga minyak naik di atas $100 per barel sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.

Harga minyak sempat turun kembali ke sekitar $110 per barel setelah Financial Times melaporkan bahwa para menteri keuangan G7 akan membahas pelepasan cadangan minyak bersama dengan Badan Energi Internasional.

MEMBACA  Delapan Fokus Penelitian untuk Percepatan Pekerjaan Hijau: Kementerian

Presiden AS Donald Trump, yang banyak mengangkat isu biaya hidup dalam kampanye pemilu 2024, mengabaikan lonjakan harga ini.

“Harga minyak dalam jangka pendek, yang akan cepat turun begitu ancaman nuklir Iran berakhir, adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar demi keamanan dan perdamaian AS dan dunia,” tulis Trump dalam sebuah postingan di Truth Social. “HANYA ORANG BODOH YANG BERPIKIR BERBEDA!”

Bursa Asia Tancap Gas Usai Trump Beri Sinyal Perdamaian Iran Picu Penurunan Harga Minyak Dunia

Bursa Asia dibuka menguat di awal perdagangan hari ini, Selasa, 10 Maret 2026. Penguatan ini seiring dengan turunnya harga minyak karena Presiden AS, Donald Trump, memberi sinyal perdamaian.

VIVA.co.id
10 Maret 2026

Tinggalkan komentar