Jakarta (ANTARA) – Indonesia berencana mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertamanya antara tahun 2032 dan 2034. Ini menjadi tonggak penting dalam strategi transisi energi jangka panjang negara, ungkap Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Dadan Kusdiana, Selasa di Jakarta.
Proyek ini merupakan bagian dari rencana lebih luas untuk mencapai kapasitas nuklir 44 gigawatt pada 2060, sejalan dengan komitmen net-zero emission Indonesia.
"Dari 44 gigawatt tersebut, 35 gigawatt akan untuk menghasilkan listrik, sementara 9 gigawatt akan mendukung produksi hidrogen mulai tahun 2045," jelas Kusdiana.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, target awal Indonesia adalah kapasitas nuklir sebesar 500 megawatt, yang akan ditempatkan secara strategis di Sumatra dan Kalimantan mulai 2032.
Kusdiana menekankan bahwa kebijakan nuklir Indonesia berdasar pada fondasi hukum yang kuat, merujuk pada Undang-Undang Tenaga Nuklir tahun 1997 dan Peraturan Kebijakan Energi Nasional 2025, yang secara eksplisit mewajibkan tenaga nuklir sebagai penyeimbang dalam bauran energi.
Pemerintah berencana memprioritaskan teknologi small modular reactor (SMR) yang menawarkan fleksibilitas untuk negara kepulauan.
"SMR sangat cocok untuk pusat industri kami dan pengembangan ekonomi biru di berbagai pulau," katanya.
Dia mencatat bahwa energi nuklir kembali muncul di Asia Tenggara, dengan lima konsumen energi terbesar ASEAN—Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam—menjelajahi pilihan nuklir melalui Nuclear Energy Cooperation Sub-sector Network (NEC-SSN).
Meski ada peluang, Kusdiana mengakui tantangan termasuk biaya awal yang tinggi, hambatan politik, dan kekhawatiran publik akan risiko bencana.
Untuk mengatasi ini, Indonesia fokus pada tiga pilar: pemilihan lokasi, pencapaian regulasi, dan kerjasama internasional.
"Mencapai target nuklir kami memerlukan implementasi yang konsisten dan dukungan luas. Ini bukan hanya soal teknologi—ini tentang membangun kepercayaan dan memastikan ketahanan jangka panjang," tegas Kusdiana.
Reporter: Shofi Ayudiana
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026