Selasa, 3 Maret 2026 – 22:35 WIB
Iran mengadakan upacara pemakaman masal untuk 165 siswi dan staf sekolah yang meninggal pada Sabtu, 28 Februari lalu. Mereka tewas dalam insiden serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap sebuah sekolah perempuan di kota Minab, Iran Selatan.
Televisi pemerintah Iran pada Selasa menayangkan ribuan warga yang memadati sebuah alun-alun di Minab. Para pria mengibarkan bendera Republik Islam Iran, sementara para perempuan yang memakai cadar hitam berdiri terpisah.
Dari atas panggung, seorang perempuan yang mengaku sebagai ibu dari salah satu korban mengangkat poster berisi foto-foto korban. Ia menyebutnya sebagai bukti kejahatan Amerika.
"Mereka wafat dalam keadaan syahid," katanya, seperti dikutip dari laman Al Jazeera, Selasa 3 Maret 2026.
Massa kemudian meneriakkan slogan-slogan yang mengecam kebijakan Amerika Serikat dan Israel serta berseru, "Tidak akan menyerah!"
Sebagai informasi, pada Sabtu 28 Februari 2026, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan gabungan yang menyasar Iran. Peristiwa ini disebut sebagai insiden paling mematikan sejauh ini dalam konflik melawan Teheran, dimana warga sipil menjadi sasaran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Senin menuduh Amerika Serikat dan Israel bertanggung jawab atas kematian para siswi tersebut.
"Ini adalah liang kubur yang digali untuk lebih dari 160 gadis muda tak berdosa yang tewas dalam pengeboman sekolah dasar oleh Amerika dan Israel. Tubuh mereka hancur berkeping-keping. Inilah kenyataan dari ‘penyelamatan’ yang dijanjikan oleh Trump. Dari Gaza hingga Minab, orang-orang tak bersalah dibunuh dengan kejam," tulis Araghchi di platform X, disertai foto deretan kuburan yang baru digali.
Pemerintah Teheran menyerukan tindakan dan solidaritas internasional setelah sejumlah rumah sakit dan sekolah terdampak serangan udara Amerika Serikat dan Israel. Seruan ini disampaikan di tengah berlanjutnya peluncuran rudal dan drone oleh Iran ke berbagai wilayah.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Senin mengatakan bahwa kedua negara tersebut terus menyerang kawasan permukiman tanpa pandang bulu. Mereka tidak mengindahkan rumah sakit, sekolah, fasilitas Bulan Sabit Merah, maupun situs budaya.
AS bantah tahu soal serangan
Insiden penyerangan terhadap sekolah perempuan di Iran ini menuai kecaman dari badan pendidikan dan kebudayaan PBB, UNESCO, serta aktivis pendidikan peraih Nobel Perdamaian, Malala Yousafzai.
Kantor Hak Asasi Manusia PBB mendesak dilakukan penyelidikan yang cepat, independen, dan menyeluruh atas serangan tersebut. Juru bicara HAM PBB, Ravina Shamdasani, mengatakan bahwa kantor Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk, belum memiliki cukup informasi untuk memastikan apakah serangan itu termasuk kejahatan perang.