Reza Pahlavi Bagi Warga Iran: Bukan Negarawan, Dianggap Tak Ada

Selasa, 3 Maret 2026 – 06:21 WIB

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, memberikan tanggapan atas kemunculan Reza Pahlavi dan pernyataan kerasnya. Hal ini menyusul tewasnya pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan brutal Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Reza Pahlavi adalah putra mahkota yang diasingkan setelah rezim ayahnya, Shah Mohammad Reza Pahlavi, digulingkan pada tahun 1979 melalui revolusi Islam yang dipimpin oleh Ayatollah Rohullah Khomeini. Menurut Dubes Boroujerdi, Pahlavi bukan seorang negarawan dan masyarakat Iran tidak menganggap serius kemunculannya.

"Apakah mungkin orang yang mengharap Iran dibom AS pantas dianggap negarawan? Saya kira orang seperti itu bukan negarawan. Kami di Iran, masyarakat negara kami, tidak menganggap ada dan tidak menganggap serius orang yang tadi disebutkan," kata Dubes Boroujerdi dalam keterangan pers di Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 2 Maret 2026.

Boroujerdi mengakui ada kelompok di Iran yang tidak berduka atas kematian Ayatollah Ali Khamenei dan pernah melakukan protes. Meski demikian, ia menegaskan bahwa para demonstran itu merupakan bagian dari kubu Pahlavi. Ia juga menyatakan bahwa pernyataan Pahlavi tentang kondisi Iran tidak dianggap serius oleh masyarakat Iran.

"Mungkin saja di Iran terdapat sebuah ketidakpuasan, sebuah protes dari masyarakat, tetapi pihak yang protes dan tidak puas pun di Iran tidak menganggap orang ini sebagai orang yang serius. Dan saya rasa media juga menganggapnya demikian," ujarnya.

Boroujerdi mengingatkan kejadian serupa pernah terjadi pada tahun 1953, ketika Shah Reza menggulingkan Mohammad Mosaddegh melalui kudeta dengan bantuan Amerika Serikat, yang mencoba menyerang demokrasi di Iran dengan mengembalikan Shah.

"Dan apabila memang mereka adalah pihak yang mengharapkan demokrasi bagi Iran, mengapa masyarakat Iran harus turun ke jalanan pada tahun 1979 melalui sebuah revolusi untuk menjatuhkan pemerintahan Shah di sana," ungkapnya.

MEMBACA  Mayoritas Penyakit yang diderita oleh Warga Indonesia: Pneumonia, Demensia, dan Dispepsia

Sebelumnya, putra mahkota terakhir Iran, Reza Pahlavi, menyampaikan pernyataan pada Minggu, 1 Maret 2026, menyusul kabar kematian Ali Khamenei. Dalam pesannya, ia menyatakan bahwa Republik Islam sedang menarik napas terakhir dan menyerukan pejabat yang tersisa untuk menyerah kepada rakyat Iran. Ia menyebut Khamenei sebagai ‘Zahhak di zaman kita’, merujuk pada figur tiran dalam mitologi Persia.

Halaman Selanjutnya

"Ali Khamenei, Zahhak di zaman kita, makhluk jahat yang beberapa minggu lalu memerintahkan pembantaian puluhan ribu anak terbaik Iran, telah tiada," tulisnya.

Tinggalkan komentar