Secara terpisah, MSF menyatakan 26 pekerja kemanusiaan dinyatakan hilang menyusul kekerasan terkini di negara bagian Jonglei, Sudan Selatan.
Dengarkan artikel ini | 4 menit
Oleh AFP, Anadolu, dan Reuters
Diterbitkan Pada 2 Mar 2026
Sedikitnya 169 orang tewas setelah puluhan pria bersenjata menyerang sebuah kota di Area Administratif Ruweng, Sudan Selatan, menurut pejabat setempat.
Kelompok pemuda tak dikenal dari Mayom County di negara bagian Unity yang bertetangga menyerbu Abiemnhom County pada hari Minggu, ujar Menteri Penerangan wilayah tersebut, James Monyluak Mijok, pada hari Senin.
Dari jumlah korban tewas, 82 di antaranya adalah anak-anak, perempuan, dan lansia, katanya kepada kantor berita Reuters.
Lima puluh orang lainnya menderita “luka-luka berat dan ringan” dalam serangan itu, tambahnya.
“Dengan berat hati saya ingin menyampaikan bahwa di antara yang tewas termasuk komisaris county dan direktur eksekutif,” kata Mijok.
Elizabeth Achol, menteri kesehatan di Ruweng utara, mengatakan kepada kantor berita AFP melalui telepon bahwa seluruh 169 jenazah telah dimakamkan dalam sebuah kuburan massal pada hari Senin.
Mijok mengatakan kepada AFP “angka [korban jiwa] mungkin bertambah jika lebih banyak jenazah ditemukan”.
Pejabat tersebut sebelumnya memberitahu Anadolu Agency bahwa pertempuran berlangsung selama tiga hingga empat jam, sebelum tentara berhasil mengusir para penyerang dari daerah itu. Pihak berwenang Abiemnhom kini memegang kendali penuh, ujarnya.
“Pemerintah Area Administratif Ruweng (GRAA) mengutuk keras tindakan biadab dan kebijakan pemusnahan ini. Pembantaian manusia ini setara dengan genosida dan tidak dapat ditolerir,” kata Mijok kepada Anadolu.
Ia menyerukan kepada pemerintah negara bagian Unity untuk membawa para pelaku ke pengadilan.
Misi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Sudan Selatan (UNMISS) pada hari Minggu menyatakan keprihatinannya atas eskalasi kekerasan di Abiemnhom selama 48 jam terakhir, menyebutkan 23 orang terluka dalam sebuah serangan di sana.
“Menanggapi memburuknya situasi keamanan, pasukan penjaga perdamaian memberikan perlindungan sementara kepada lebih dari 1.000 warga sipil di dalam markas UNMISS di area tersebut serta memberikan perawatan medis darurat kepada yang terluka,” tambah UNMISS dalam sebuah pernyataan.
Pekerja Kemanusiaan ‘Tak Dapat Ditemukan’ Usai Kekerasan di Jonglei
Kekerasan ini menyoroti kekhawatiran, termasuk dari PBB, mengenai instabilitas yang kian mendalam sejak penangkapan mantan Wakil Presiden Pertama Riek Machar setahun yang lalu.
Presiden Salva Kiir menandatangani perjanjian damai dengan Machar pada 2018 untuk mengakhiri perang saudara lima tahun yang menewaskan sekitar 400.000 orang.
Namun implementasi kesepakatan tersebut berjalan lambat, dan pasukan-pasukan yang berseberangan kerap bentrok akibat perbedaan pendapat mengenai pembagian kekuasaan.
Pada hari Senin, Doctors Without Borders, yang juga dikenal dengan inisial Prancisnya MSF, menyatakan 26 stafnya hilang setelah peningkatan kekerasan di negara bagian Jonglei dalam beberapa pekan terakhir.
“Dua puluh enam dari 291 rekan kerja MSF yang bertugas di Lankien dan Pieri masih belum dapat ditemukan menyusul kekerasan terkini, dan kami kehilangan kontak dengan mereka di tengah situasi keamanan yang terus berlanjut,” demikian pernyataan mereka.
MSF telah menangguhkan layanan medis di Lankien dan Pieri, keduanya di Jonglei, yang menyaksikan bentrokan besar antara pasukan pemerintah dan oposisi sejak Desember.
Sebuah fasilitas MSF di Lankien terkena serangan udara pemerintah pada 3 Februari, kata LSM itu.
“Banyak staf kami terpaksa melarikan diri dari kekerasan bersama keluarga mereka. Beberapa kini mengungsi, berlindung di daerah-daerah terpencil dengan akses minim terhadap makanan, air, atau layanan dasar,” tambah pernyataan itu.
Sudan Selatan, negara termuda di dunia, telah dilanda perang saudara, kemiskinan, dan korupsi masif sejak dibentuk pada 2011.