Enam Kamera Pengintai Dipasang Usai Penampakan Harimau di Sumatra Barat

Lubuk Basung, Sumbar (ANTARA) – Badan konservasi Sumatra Barat telah memasang enam kamera jebakan untuk memantau harimau sumatra yang terlihat di dekat perkebunan desa di Kabupaten Agam, setelah video hewan itu viral di media sosial.

Petugas dari Resort Konservasi Maninjau di bawah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat dikirim ke Ladang Ateh, Desa Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, untuk menangani konflik satwa-manusia yang dilaporkan.

“Kami telah mengirim tim untuk menangani situasi dengan memasang enam kamera jebakan,” kata Ade Putra, kepala Resort Konservasi Maninjau, pada Jumat.

Kamera-kamera itu dipasang di sepanjang koridor satwa yang dicurigai berdasarkan jejak kaki dan cakaran yang ditemukan di lokasi.

Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi usia dan jenis kelamin harimau serta memantau pergerakannya, terutama setelah warga melaporkan video yang menunjukkan hewan itu di lahan perkebunan milik pribadi.

Kemunculan seekor harimau di Ladang Ateh baru-baru ini viral di media sosial, menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga.

“Menanggapi video kemunculan harimau tersebut, kami segera mengirim tim untuk mengelola situasi,” ujar Ade.

Dia menambahkan bahwa kantor BKSDA-Sumbar telah berkoordinasi dengan otoritas lokal dan instansi terkait di lapangan.

BKSDA juga mengerahkan Tim Patroli Nagari Pasia Laweh, yang dikenal sebagai Pagari, untuk upaya respons awal.

“Tim Pagari Pasia Laweh telah dimobilisasi setelah laporan penampakan harimau sumatra,” katanya.

Pihak berwenang meminta warga untuk sementara menghindari aktivitas di dekat lokasi penampakan dan mengamankan ternak untuk mencegah serangan potensial.

Sebelumnya, tiga harimau sumatra terekam kamera sirkuit tertutup di stasiun Pengamatan Atmosfer Global Bukit Kototabang, Kecamatan Palupuh, Agam, pada Senin (23 Feb).

Pejabat mengatakan masih belum jelas apakah harimau-harimau tersebut adalah individu yang sama yang terlihat di Ladang Ateh.

MEMBACA  Masalah Krusial Kamera Flock: Dibenci dan Dirusak Publik

ANTARA mencatat bahwa harimau sumatra adalah satu-satunya spesies harimau yang masih bertahan di Indonesia, setelah kepunahan harimau Bali pada 1937 dan harimau Jawa pada 1970-an.

Harimau sumatra, subspesies harimau terkecil, sangat terancam punah dan hanya ditemukan di Pulau Sumatra, pulau terbesar kedua di Indonesia.

Kelestariannya terancam oleh deforestasi, perburuan liar, dan peningkatan konflik satwa-manusia yang disebabkan oleh menyusutnya habitat alami.

Perkiraan menempatkan populasi harimau sumatra liar kurang dari 300 hingga sekitar 500 individu di 27 lokasi, termasuk Taman Nasional Kerinci Seblat, Tesso Nilo, dan Gunung Leuser.

World Wildlife Fund (WWF) menyatakan populasinya telah menurun dari sekitar 1.000 individu pada 1970-an.

Laporan Kementerian Kehutanan 2009 mengidentifikasi konflik dengan manusia sebagai ancaman utama, dengan rata-rata lima hingga 10 harimau terbunuh setiap tahun sejak 1998.

Berita terkait: Otoritas Riau selidiki penampakan harimau sumatra dekat fasilitas minyak

Berita terkait: Jejak harimau sumatra yang terancam punah ditemukan setelah kejadian di Riau

Penerjemah: Altas M, Rahmad Nasution

Editor: M Razi Rahman

Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar