Ikon Tombol Panah Bawah

Di era di mana tehnologi mengganggu, memecah belah, dan otomatis, banyak orang justru mencari ketenangan di "pulau-pulau" analog di tengah lautan digital.

Fenomena ini menyatukan berbagai generasi, dari lansia dan paruh baya yang lahir sebelum internet, hingga generasi muda yang tumbuh dengan dunia online.

Mereka menaruh gadget untuk melukis, mewarnai, merajut, dan main permainan papan. Ada juga yang meluangkan waktu untuk mengirim kartu ucapan tulisan tangan. Beberapa tetap nyetir mobil manual meski dikelilingi mobil yang bisa nyetir sendiri. Penggemar piringan hitam (vinyl) juga makin banyak, menghidupkan kembali format yang dulu hampir punah.

"Pengalaman analog memberi pelarian nostalgia dari zaman yang serba cepat," kata Martin Bispels, 57, mantan eksekutif QVC.

Tapi, kegiatan analog juga menarik bagi generasi muda (milenial & Gen Z) yang sebenarnya sangat akrab dengan dunia digital. Meski teknologi memberi kemudahan instan, mereka justru rindu aktivitas yang lebih nyata dan personal.

"Ini seperti kerinduan akan hal-hal yang terasa nyata, bukan sekadar di layar," jelas Pamela Paul, penulis buku tentang hal-hal yang hilang karena internet.

Berikut sekilas kegiatan lawas yang kini kembali tren.

Kartu Ucapan yang Tetap Bermakna

Tradisi tukar kartu ucapan nyaris tergantikan oleh pesan singkat dan media sosial. Tapi, orang-orang seperti Megan Evans tetap mempertahankannya. Ia membuat grup Facebook "Random Acts of Cardness" sepuluh tahun lalu untuk menjaga hubungan yang lebih manusiawi.

"Siapa saja bisa kirim pesan ‘Selamat Ulang Tahun’. Tapi mengirim kartu fisik adalah cara yang lebih tulus untuk menunjukkan bahwa kamu peduli," kata Evans.

Grupnya kini punya lebih dari 15.000 anggota, termasuk Billy-Jo Dieter yang mengirim minimal 100 kartu per bulan. "Ini seperti seni yang hampir punah," katanya.

MEMBACA  Penyeberangan perahu kecil ke Inggris meningkat sebesar seperlima namun tetap di bawah rekan-rekan Eropa

Keunikan Mobil Transmisi Manual

Mobil manual kini langka, kurang dari 1% mobil baru di AS yang memilikinya. Tapi masih ada penggemar setia seperti Prabh dan Divjeev Sohi, dua bersaudara Gen Z yang tetap nyetir mobil manual ke kampusnya di Silicon Valley.

Mereka jatuh cinta pada mobil manual sejak main game balap dan diajari oleh ayah serta kakeknya. Belajar mengoperasikan kopling memang sulit di awal dan sering bikin mobil mogok, tapi itu justru membuat pengalaman berkendaranya lebih berarti.

"Kamu jadi lebih fokus pada saat ini ketika menyetir mobil manual. Kamu benar-benar harus memahami dan menyatu dengan mobilnya," kata Divjeev.

Kembalinya Era Piringan Hitam (Vinyl)

Vinyl dulu dianggap akan punah ketika kaset dan CD muncul. Tapi, penjualannya justru bangkit kembali dalam beberapa tahun terakhir.

Yang mendorong tren ini bukan hanya kolektor lama, tapi juga generasi muda yang mengapresiasi kualitas suaranya yang lebih "hangat".

"Saya suka mendengarkan album vinyl dari awal sampai akhir. Rasanya seperti sedang duduk bersama artisnya," kata Carson Bispels, anak dari Martin Bispels. Koleksi vinylnya yang awalnya hanya 10 piringan dari ayahnya, kini sudah mencapai sekitar 100 album.

"Ada aspek personal yang tak tergantikan saat kita ke toko rekaman, memilih-milih album, dan mengobrol dengan pemilik toko atau pelanggan lain," tambah Carson.

Pamela Paul melihat kebangkitan vinyl sebagai bagian dari kerinduan akan kemanusiaan. "Mungkin ini bisa jadi bahan untuk buku lanjutannya," katanya.

Tinggalkan komentar