Filsuf Spanyol-Amerika, George Santayana, pernah bilang: "Mereka yang tidak belajar dari sejarah akan mengulanginya." Tulisan-tulisannya jadi penuntun di masa-masa sulit seperti Perang Dunia. Kini, Ray Dalio memperingatkan hal serupa bisa terjadi lagi.
Mungkin inilah saatnya kita belajar sejarah tentang Revolusi Industri pertama. Dulu, mesin-mesin baru meningkatkan produksi, tapi gaji pekerja tidak naik selama lebih dari 50 tahun. Fenomena ini disebut "Jeda Engels" oleh sejarawan ekonomi Robert Allen. Kondisi ini membantu munculnya ide-ide dalam The Communist Manifesto karya Engels dan Karl Marx.
Dan sekarang, 200 tahun kemudian, pola serupa mungkin terulang.
Pelajaran Sejarah
Dulu, pemilik modal yang sangat diuntungkan oleh kemajuan teknologi. Gaji buruh baru naik setelah industri baru membutuhkan tenaga terampil dan kebijakan politik berubah.
Kini, ekonom di Bank of America memperingatkan hal serupa. Keuntungan dari peningkatan produktivitas saat ini lebih banyak jadi laba perusahaan, sementara bagian gaji dalam perekonomian menurun. Apakah gaji akan mengejar ketertinggalan? Masih harus dilihat.
Trend ini sesuai dengan prediksi analis Albert Edwards dari Societe Generale pada 2022, yang menyebutkan kemungkinan "akhir dari kapitalisme". Dia tetap pada pendapatnya dan memperingatkan tentang "hari penghakiman" di pertengahan dekade ini.
Ini terjadi saat ekonomi AS terlihat campur aduk. Penambahan lapangan kerja di 2025 sangat sedikit, tapi pertumbuhan ekonomi tetap ada. Ketika dua tren ini digabungkan, artinya produktivitas per pekerja meningkat.
Apakah kenaikan produktivitas ini sepenuhnya karena AI? Bank of America mencatat lonjakannya sudah dimulai sejak pandemi, sebelum ChatGPT ada. Faktor seperti kerja jarak jauh dan digitalisasi mungkin berperan. Banyak ahli masih ragu dengan dampak revolusioner AI di dunia kerja.
Namun, beberapa pekan terakhir, analis mulai berubah nada. Ada peringatan tentang "lepas landas"-nya AI yang viral. Peneliti ternama Erik Brynjolfsson berpendapat AS mulai masuk fase "panen" AI, di mana investasi bertahun-tahun mulai terlihat hasilnya dalam produktivitas. Dia memperkirakan pertumbuhan produktivitas AS hampir dua kali lipat di 2025.
"Kebangkitan produktivitas ini bukan cuma tanda kekuatan AI," tulis Brynjolfsson. "Ini adalah peringatan untuk fokus pada transformasi ekonomi yang akan datang."
Ekonomi Kebencian dan Penumpukan Keuntungan
Tapi transformasi ekonomi ini tidak disambut semua orang. Kecurigaan terhadap AI telah berubah menjadi kebencian yang nyata bagi banyak pekerja AS. Sebagian besar takut pada AI dan tidak merasa antusias. Pekerja tidak suka dipaksa menggunakan teknologi yang nantinya akan menggantikan mereka. Sebuah jajak pendapat menemukan 6 dari 10 orang Amerika tidak percaya AI.
Sementara itu, para pemimpin perusahaan—yang sangat antusias dengan peluang AI—tidak menyadari betapa negatifnya perasaan karyawan. Sebuah survei menemukan 76% eksekutif mengira karyawannya antusias dengan AI, padahal kenyataannya hanya 31% pekerja yang merasa demikian.
Kesenjangan ini mungkin ada hubungannya dengan temuan analis Bank of America. Kebanyakan pekerja belum merasakan manfaat dari booming AI di pasar saham. Mereka justru berhadapan dengan pasar tenaga kerja yang lesu dan harga yang lebih tinggi. Di sisi lain, konsumen berpenghasilan tinggi tetap stabil karena keuntungan saham dan kepemilikan rumah.
"Untuk saat ini, laba yang lebih tinggi dibandingkan upah adalah penggerak lain dari ekonomi berbentuk K," tulis Bank of America.