Ringkasan Berita:
Di Kelenteng Tek Seng Bio, Cikarang Utara, ada empat tempat petilasan tokoh muslim dalam satu altar, lengkap dengan tasbih sampai peci.
Keberadaannya jadi simbol kedekatan umat Islam dan Tionghoa dari dulu.
Umat Konghucu dan Islam sama-sama berdoa di sana, bahkan membaca Al-Fatihah.
Kelenteng yang berdiri sejak 1825 ini terbuka untuk semua umat sebagai wujud kerukunan.
WARTAKOTALIVE.COM, BEKASI – Ada empat petilasan tokoh muslim di Kelenteng Tek Seng Bio di Jalan KH. Fudholi, Desa Karangasih, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Keberadaannya punya sejarah dan arti penting bagi warga Tionghoa di Bekasi.
Menurut pantauan, keempat tokoh muslim itu adalah Mbah Raden Surya Kencana, Tay Lau Soe Aki Jenggot, Dji Lau Soe Imam Soedjono dan Mbah Sabin.
Keempat petilasannya berada dalam satu altar dan di dalamnya ada bantal, tasbih, peci, serta keris khas Jawa dan benda pusaka lainya.
Di depan petilasan itu juga ada sesajen seperti buah-buahan, dodol, dan dupa.
Pengurus Kelenteng Tek Seng Bio, Suhenri, bilang kalau keempat petilasan ini punya sejarah panjang. Keempat tokoh muslim itu sangat dekat dengan komunitas Tionghoa, khususnya di Cikarang.
“Dari cerita leluhur, tokoh muslim itu pernah datang dan bertemu dengan tokoh umat di sini,” kata Suhenri.
Dalam sejarahnya, bukan cuma umat Konghucu yang menjaga kelestarian kelenteng, umat Islam juga berperan besar dalam menjaga kerukunan.
“Jadi di sini, yang datang ibadah bukan cuma dari kami (Konghucu), dari umat Islam juga banyak. Mereka biasa berdoa di petilasan itu,” jelasnya.
Tak cuma umat Islam, umat Konghucu juga membaca surat Al-Fatihah di depan petilasan tersebut, termasuk Suhenri sendiri.
Dia sering membaca Al-Fatihah ketika di depan petilasan tokoh muslim itu.
“Walaupun bukan muslim, tapi ketika di petilasan ya baca Al-Fatihah. Kami doakan mereka, semoga mereka berbahagia. Kita kan gak tahu keadaan makhluk yang sudah meninggal,” ujarnya.
Karena itu, Kelenteng Tek Seng Bio di Cikarang terbuka untuk semua umat beribadah. Banyak juga umat Islam keturunan Tionghoa yang masih datang dan ikut beribadah di kelenteng.
Bahkan, meski bukan keturunan Tionghoa, ada banyak umat Islam yang melakukan ritual ibadah di keempat petilasan tokoh muslim tersebut.
“Bebas di sini, mau ibadah cara muslim atau bagaimana. Mau baca Al-Fatihah, Ayat Kursi, boleh saja. Asal jangan merusak atau mengganggu,” pungkasnya.