Suhu Mekkah dan Madinah Lebih Teduh pada Ramadhan Tahun Ini

Senin, 16 Februari 2026 – 17:40 WIB

Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi (National Center for Meteorology) telah merilis prakiraan iklim awal untuk Ramadhan 1447 H. Berdasarkan perkiraan cuaca, dua kota suci—Mekah dan Madinah—diprediksi akan mengalami curah hujan dibawah rata-rata dengan suhu udara yang sedikit lebih hangat dari biasanya.

Menurut NCM, total hujan selama bulan suci itu diproyeksikan lebih rendah dari rata-rata normal. Biasanya, curah hujan bulanan di Makkah sekitar 4,2 mm dan di Madinah 4,3 mm. Pada Ramadhan mendatang, hujan yang turun diperkirakan termasuk dalam kategori ringan.

Disisi lain, suhu diperkirakan akan meningkat tipis di atas rata-rata sejarah. Prakiraan menunjukkan kenaikan suhu maksimum sekitar 1°C di Makkah dan hingga 1,2°C di Madinah.

Sebagai perbandingan, rata-rata suhu selama Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya adalah sekitar 26,8°C di Makkah dan 23,1°C di Madinah.

NCM menyatakan bahwa prakiraan musiman ini dirilis untuk mendukung kesiapan operasional berbagai pihak, terutama lembaga-lembaga yang melayani jamaah di Dua Masjid Suci selama Ramadhan.

Sementara itu, Menteri Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan Arab Saudi, Syeikh Abdullatif Al-Sheikh, telah meluncurkan program “Ramadhan Penjaga Dua Masjid Suci 1447 H” di Riyadh pada Minggu, 15 Februari 2026.

Dalam program tersebut, Arab Saudi juga menjalankan Program Ramadan Raja dengan mendistribusikan 2,2 juta eksemplar Al-Qur’an serta 1.000 ton kurma ke 120 negara.

NCM mengimbau masyarakat untuk terus memantau pembaruan cuaca melalui saluran resmi mereka untuk mendapatkan laporan dan arahan iklim berkala menjelang dan selama Ramadhan.

Sebelumnya, Mahkamah Agung Arab Saudi telah menyerukan kepada semua Muslim di Kerajaan untuk memantau kemunculan hilal Ramadhan pada Selasa malam.

MEMBACA  Kecelakaan Fatal di Tol Japek Menjadi Evaluasi Penerapan Contra Flow Arus Mudik Lebaran

Dalam pengumuman yang dilansir Saudi Press Agency (SPA), Senin (16/2/2026), Mahkamah meminta siapa pun yang melihat hilal, baik dengan mata telanjang atau menggunakan teropong, untuk segera melaporkan penemuannya ke pengadilan setempat guna mendaftarkan kesaksian.

Bagi warga yang memerlukan bantuan, Mahkamah juga meminta mereka menghubungi pusat atau otoritas setempat untuk mendapatkan panduan menuju pengadilan terdekat. Selain itu, masyarakat yang mampu melakukan rukyat hilal diimbau bergabung dengan komite pemantauan yang telah dibentuk di wilayah masing-masing.

Mahkamah menegaskan bahwa partisipasi masyarakat dalam proses ini memiliki manfaat yang sangat besar bagi seluruh umat Muslim, karena hasil pemantauan akan menentukan awal bulan suci Ramadhan.

Tinggalkan komentar