Hindari FOMO, Tingkatkan Literasi Aset Digital dan Kripto

loading…

CEO Indodax, William Sutanto di acara Fortune Indonesia Summit yang diadakan di Jakarta. FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA – Industri aset digital dan blockchain di Indonesia terus berupaya memperkuat literasi untuk melindungi masyarakat dari fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau tindakan investasi cuma ikut-ikutan. Upaya ini dijalankan lewat edukasi yang berkelanjutan supaya pengguna punya pemahaman yang dalam tentang resiko dan dasar teknologi sebelum masuk ke dunia kripto.

“Melalui Indodax Academy dan berbagai program pengembangan bakat, kami ingin bantu masyarakat memahami kripto dan teknologi *blockchain* secara lebih lengkap, termasuk resiko yang mungkin timbul, sehingga keputusan yang diambil bisa lebih matang dan bertanggung jawab,” kata CEO Indodax, William Sutanto, dalam keterangan tertulis, Sabtu (14/2/2026).

Baca Juga: Investor Kripto Tembus 20 Juta Orang, Indodax Catat Transaksi Rp201 T di 2025

William menerangkan bahwa dengan lebih dari 9,8 juta anggota, mereka secara konsisten mengelola Indodax Academy sebagai saluran edukasi utama. Platform ini membahas berbagai topik teknis mulai dari dasar-dasar *blockchain*, *bitcoin*, sampai mekanisme penambangan aset kripto untuk membangun rasionalitas investor dalam mengambil keputusan.

Melalui program itu, publik diajak untuk mengadopsi prinsip Do Your Own Research (DYOR). Pendekatan ini dianggap sangat penting agar pengguna bisa menilai resiko secara mandiri dan mengerti produk yang mereka investasikan, jadi tidak cuma tergoda oleh naik turunnya harga yang sesaat.

Selain edukasi untuk pengguna umum, perusahaan juga menekankan pentingnya pengembangan bakat teknis lewat program literasi Web3 Developer. Inisiatif ini fokus pada pelatihan dan bimbingan bagi pengembang lokal agar punya keahlian teknis yang sesuai dengan kebutuhan ekosistem digital di masa depan.

MEMBACA  "Dipastikan Aman, Saudia Airlines yang Sempat Diteror Bom dan Mendarat di Kualanamu Siap Melanjutkan Penerbangan" (Penulisan lebih elegan dengan penyesuaian struktur kalimat tanpa mengubah makna.)

Tinggalkan komentar