Meta berharap kita terlalu sibuk dengan pemerintahan federal yang menculik imigran non-kekerasan dan warga negara dari jalanan, serta penghancuran sistem kesehatan dan aparatus sains AS, hingga tidak peduli jika mereka menyelipkan kemampuan pengenalan wajah ke dalam kacamata pintarnya. Ini bukan hiperbola.
Bahkan, sentimen ini dilaporkan berasal dari memo internal Meta yang bocor.
“Kami akan meluncurkan di tengah lingkungan politik dinamis di mana banyak kelompok masyarakat sipil yang biasanya menyerang kami, akan fokus sumber dayanya pada isu lain,” demikian kutipan The New York Times atas penjelasan Meta kepada staf tentang rencana menambahkan fitur pengenalan wajah pada kacamata seperti Ray-Ban Meta, Oakley Meta HTSN, dan Meta Ray-Ban Display. Meta dikabarkan telah mencari cara untuk memasang pengenalan wajah di kacamatanya selama setahun terakhir, meski mengetahui ada “risiko keamanan dan privasi” yang terkait dengan teknologi ini.
Jika Meta meluncurkan fitur ini, belum jelas apakah perusahaan akan menjadikannya fitur eksklusif untuk model baru atau menambahkannya ke produk yang sudah ada. Dalam pernyataan tertulis ke Gizmodo, juru bicara Meta mengatakan, “Kami membangun produk yang membantu jutaan orang terhubung dan memperkaya hidup. Meski kami sering mendengar minat terhadap fitur semacam ini—dan beberapa produk serupa sudah ada di pasar—kami masih mempertimbangkan berbagai opsi dan akan mengambil pendekatan bijaksana jika dan sebelum kami merilis apa pun.”
Bukan Soal Aksesibilitas, Melainkan AI
Tidak sulit menyembunyikan lampu indikator perekam pada Ray-Ban Meta. © Raymond Wong / Gizmodo
Secara teori, kemampuan teknis ini dapat membantu mereka yang bermasalah penglihatan atau penderita prosopagnosia (buta wajah) untuk mengenali wajah teman atau keluarga. Namun kenyataanya, Meta menginginkan fitur ini untuk lebih dari sekadar aksesibilitas. The Times mengklaim Meta sedang mengerjakan kemampuan “super sensing” untuk kacamatanya. Intinya, ini memungkinkan kamera dan mikrofon perangkat menangkap informasi kapan pun Anda memakainya, bukan hanya saat merekam. Semua data ini akan diumpankan ke asisten AI untuk membantu tugas sehari-hari, seperti saat Anda lupa tempat memarkir mobil.
Mengesampingkan pengenalan wajah sejenak, kacamata yang selalu merekam menciptakan dilema etika yang lebih luas ketimbang sekadar kamera pengenal wajah. Kacamata Ray-Ban Meta dapat digunakan untuk merekam video secara diam-diam—persis seperti era “glasshole” dulu. Kacamata Meta biasanya menyala saat merekam, namun akankah model baru ini membuat lampu berkedip terus-menerus selama merekam? Kalaupun iya, sepotong selotip sudah cukup untuk mengubah siapa pun menjadi alat pengawasan berjalan.
Kacamata Meta sudah mengumpulkan semua foto dan transkrip percakapan Anda untuk tujuan iklan dan pelatihan AI mereka, sesuai kebijakan privasi perusahaan. Aliran video baru yang terus-menerus dari kacamata yang selalu merekam ini akan menjadi tambang emas baru bagi Meta. Selain itu, Meta menyediakan banyak informasi pengguna kepada pemerintah federal. Data dari firma analis Proton, yang dikutip Forbes, menunjukkan jumlah akun yang diberikan kepada pemerintah federal meningkat 675% dari 2014 hingga 2024.
Jalan Baru untuk Pengawasan Nasional
CEO Meta Mark Zuckerberg dan Presiden AS Donald Trump saat jamuan makan dengan para pemimpin teknologi di Gedung Putih, 4 September 2025. © Alex Wong/Getty Images
CEO Mark Zuckerberg telah berusaha keras mendekati rezim Trump. Perusahaan ini baru-baru menang dalam kasus antimonopoli federal terkait akuisisi Instagram dan WhatsApp. Meta tahu bahwa untuk tetap bertahan dalam permainan, mereka harus mengikuti apa pun yang diminta Gedung Putih. Bukan hal yang berlebihan untuk percaya bahwa perusahaan dapat bekerja sama dengan otoritas federal untuk menyediakan data yang dikumpulkan dari pengguna kacamatanya, jika memang belum melakukannya.
Ada alasan kuat mengapa orang mungkin resah memberikan teknologi pengenalan wajah kepada khalayak luas. Pada 2024, dua mahasiswa Harvard membobol kacamata Ray-Ban Meta untuk membuatnya kompatibel dengan alat pengenalan wajah gratisan. Kacamata itu dapat menyisir informasi yang tersedia publik di internet untuk mendapatkan nomor telepon, alamat rumah, dan data relevan lain tentang seseorang.
Ini juga bukan kali pertama Meta terobsesi dengan pengenalan wajah. Mereka pertama kali mengaktifkan teknologi ini di Facebook pada 2010 untuk memudahkan penandaan teman di foto. Pengguna tidak punya pilihan hingga 2019, ketika Facebook akhirnya menjadikannya opsi. Meta kemudian mengubur teknologi pengenalan wajah Facebook pada 2021.
Teknologi pengenalan wajah kini telah sangat maju, hampir tidak ada cara untuk menyembunyikan data biometrik Anda dari aparatus pengawasan yang menyeluruh. Gizmodo pernah berbicara dengan beberapa ahli biometrik, dan mereka semua menyatakan Anda tidak bisa hanya mengandalkan riasan atau topeng agar tidak dikenali. Sudah hampir mustahil menghindari kamera di bandara atau bahkan jalanan umum. Jika setiap orang membawa kamera yang terus-menerus merekam, maka tidak akan ada lagi tempat untuk bersembunyi.