Tingkatkan Fasilitas Biogas Olah Limbah MBG, Rumah Energi Kurangi Emisi 2,5 Ton CO2 per Tahun

Jumat, 13 Februari 2026 – 09:04 WIB

Jakarta, VIVA – Yayasan Rumah Energi memulai program fasilitas biogas yang bisa menurunkan emisi 2,5 ton setara karbon dioksida (CO₂e) per tahun dan rumah pengering dengan tenaga surya (Solar Dryer House) di Sukabumi, Jawa Barat.

Baca Juga :
Yakin MBG Bisa Ciptakan Pertumbuhan Ekonomi yang Tinggi, Purbaya: Jangan Banyak Protes!

Fasilitas biogas dan Solar Dryer House ini dibuat oleh Rumah Energi dan PT Insight Investment Management serta didanai Ford Foundation dalam proyek Pro Women 3. Sumanda menyebut perluasan program ini adalah bagian dari usaha untuk memperkuat model energi terbarukan berbasis komunitas.

“Biogas dan Solar Dryer House bukan cuma infrastruktur, tapi juga sarana belajar bagi masyarakat tentang energi terbarukan, pengelolaan sampah, dan ekonomi sirkular. Ketika masyarakat terlibat dari perencanaan sampai pengelolaan, dampaknya akan lebih berkelanjutan,” kata Direktur Yayasan Rumah Energi Sumanda Tondang, Jumat, 13 Februari 2026.

Baca Juga :
Wakil Kepala BGN Respons Soal Survei Puas Akan Program MBG

Peresmian fasilitas ini pada Kamis dilakukan oleh Bupati Sukabumi Asep Japar di Kampung Cihurang, Desa Cidadap, untuk biogas, dan di Kampung Babakan Asem, Desa Loji, untuk Solar Dryer House. Acara ini juga dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Budi Azhar Mutawali.

Menurut Rumah Energi, program biogas di Kampung Cihurang menggunakan limbah organik dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk diubah menjadi energi bersih untuk memasak. Selain mengurangi sampah organik, cara ini berpotensi menekan emisi gas rumah kaca sekitar 2,5 ton setara CO₂ per tahun dan mengurangi ketergantungan pada LPG.

Baca Juga :
Kepuasan Terhadap MBG Tinggi, PSI: Bukti Pemerintah Dengarkan Kritik

MEMBACA  Dengan Sekolah-sokolah yang Hancur, Pendidikan di Gaza Akan Lumpuh Selama Beberapa Tahun

Sisa biogas juga bisa diolah menjadi pupuk cair dan padat untuk mendukung pertanian ramah lingkungan di desa.

Sementara itu, Solar Dryer House di Kampung Babakan Asem, kata Sumanda, dikembangkan untuk mengatasi masalah pengeringan bawang merah dan padi setelah panen yang selama ini masih mengandalkan penjemuran di luar. Teknologi pengering dengan tenaga matahari ini dirancang untuk menjaga suhu tetap stabil sehingga kualitas hasil panen lebih seragam dan punya nilai jual lebih tinggi.

Bupati Sukabumi Asep Japar, dalam peresmian, menyatakan dukungannya untuk pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat yang dianggap bisa memberikan manfaat lingkungan sekaligus ekonomi bagi warga desa.

Halaman Selanjutnya

“Penggunaan biogas dan Solar Dryer House ini menunjukkan bahwa solusi energi bersih bisa datang dari desa, dikelola masyarakat, dan memberi dampak nyata bagi lingkungan serta kesejahteraan warga,” kata Asep.

Tinggalkan komentar