Pezeshkian Serukan Persatuan pada Peringatan Revolusi Iran 1979

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan persatuan nasional dalam menghadapi ancaman eksternal sembari menegaskan kesiapan pemerintahannya untuk bernegosiasi mengenai program nuklir. Seruan ini disampaikan dalam upacara publik besar-besaran di Teheran yang memperingati 47 tahun berdirinya Republik Islam.

Massa dalam jumlah besar memadati ibu kota dan kota-kota lain di seluruh negeri sebagai bentuk dukungan kepada pemerintah, dalam peringatan tahun 1979 di tengah salah satu momen paling sulit dalam sejarah terkini Iran.

Kisah-kisah Rekomendasi

dafar 4 item
akhir dafar

Usai putaran terakhir pembicaraan mengenai program nuklir Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus mengancam Teheran dengan serangan militer potensial jika tidak memenuhi tuntutan Washington dalam isu-isu mulai dari pengayaan nuklir hingga rudal balistik. Pemimpin AS itu dilaporkan mempertimbangkan untuk mengirimkan kembali kelompok kapal induk ke kawasan tersebut.

Di samping ancaman dari AS, Iran sedang bergumul dengan perpecahan internal yang pahit pascatindakan keras mematikan terhadap unjuk rasa awal tahun ini, yang menewaskan ribuan pengunjuk rasa, serta ekonomi yang terpuruk.

Berpidato di hadapan massa di Lapangan Azadi, Teheran, Pezeshkian menyerukan solidaritas di kalangan warga Iran dalam menghadapi "konspirasi dari kekuatan imperialis".

"Kita berdiri bersama… bersolidaritas menghadapi semua konspirasi yang menargetkan bangsa kita," ujarnya, menambahkan bahwa kekuatan dan persatuan rakyat Iran "menimbulkan kekhawatiran di kalangan musuh kita."

"Kita harus terus berdiri bahu membahu."

Mengenai perundingan nuklir, ia menyatakan Iran "tidak mencari senjata nuklir" dan "siap untuk segala bentuk verifikasi."

Namun, katanya, "tembok ketidakpercayaan yang tinggi" yang diciptakan oleh AS dan Eropa "tidak memungkinkan perundingan ini mencapai kesimpulan."

"Di saat yang sama, kami berengagemen dengan tekad penuh dalam dialog yang bertujuan untuk perdamaian dan stabilitas di kawasan bersama negara-negara tetangga kami," tambahnya.

MEMBACA  18 Jenderal Bintang 2 Ditransfer oleh Panglima TNI pada Akhir Maret 2024, Berikut Nama-namanya.

Pezeshkian Meminta Maaf

Menyangkut unjuk rasa terkini, yang bermula dari demonstrasi mengenai tingginya biaya hidup dan merosotnya nilai tukar mata uang sebelum meluas ke keluhan-keluhan lain terhadap pemerintah, Pezeshkian meminta maaf atas kekurangan pemerintah dan menyatakan sedang melakukan "segala upaya yang mungkin" untuk memperbaiki masalah.

"Kami siap mendengarkan suara rakyat. Kami adalah pelayan rakyat. Kami tidak bermaksud untuk berkonfrontasi dengan rakyat," katanya.

Ia menyalahkan "propaganda jahat" yang disebarkan musuh-musuh Iran karena memicu kerusuhan, yang ia sebut sebagai huru-hara.

"Upaya-upaya yang musuh kita lakukan untuk menciptakan luka yang dalam di masyarakat dan memperlebar perpecahan, kita harus menyembuhkan luka-luka ini," ujarnya.

Iran ‘Terbuka untuk Kesepakatan’

Berbicara kepada Al Jazeera dari Teheran, Ali Akbar Dareini, peneliti di Pusat Studi Strategis, mengatakan pidato Pezeshkian menandakan Iran "terbuka untuk kesepakatan yang adil dan seimbang dengan Amerika Serikat."

"Meski ia tidak merinci, pernyataan bahwa Iran terbuka untuk itu berarti Iran, di saat bersamaan, akan menolak tuntutan tidak realistis dari Amerika Serikat yang berupaya melucuti Iran atau mengingkari hak-hak berdaulat Iran," paparnya.

Ia menyatakan pidato Pezeshkian mengakui bahwa keluhan publik terhadap pemerintah adalah sah, menekankan bahwa pemerintahnya akan berusaha sebaik mungkin menyelesaikan masalah.

Melaporkan dari Teheran, jurnalis Al Jazeera Resul Serdar mengatakan peringatan ulang tahun ini berlangsung pada momen kritis bagi Iran, saat negara itu menghadapi ancaman eksternal dan perpecahan internal yang signifikan.

"Ada tuntutan besar untuk perubahan," katanya, sambil menambahkan bahwa sementara itu, "rezim ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki dukungan rakyat."

Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah menyerukan pada Selasa agar warga Iran membanjiri dan merayakan acara ini, yang dihadiri oleh tokoh-tokoh politik, militer, dan agama senior.

MEMBACA  Mengapa 'Keajaiban' yang Bergoyang di Hong Kong Membuat Beberapa Bertanya-tanya?

Bendera AS dan Israel Dibakar

Perayaan tersebut menampilkan simbol-simbol sentimen anti-AS dan anti-Israel yang mencolok, dengan masyarakat membakar dan menginjak-injak bendera kedua negara itu.

Media Iran menayangkan gambar peti mati simbolis terbungkus bendera AS dan membawa nama serta potret komandan militer AS, sementara rudal-rudal Iran dan reruntuhan drone Israel yang ditembak jatuh selama perang 12 hari tahun lalu dipamerkan.

Di jalanan, masyarakat mengibar-ngibarkan gambar Khamenei dan Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam, berdampingan dengan bendera Iran dan Palestina. Sebagian meneriakkan "Mati bagi Amerika!" dan "Mati bagi Israel!".

Dareini dari Pusat Studi Strategis Teheran mengatakan peringatan ini merupakan manifestasi solidaritas yang signifikan di persimpangan jalan kritis bagi Iran.

"Israel dan Amerika telah berupaya memecah solidaritas nasional di Iran, tetapi unjuk rasa hari ini di seluruh negeri adalah manifestasi dari solidaritas," ujarnya.

Dorongan Diplomatik Berlanjut

Peringatan di Iran ini berlangsung di tengah upaya diplomatik yang terus berjalan seputar perundingan nuklir dengan AS, sementara Washington terus mengancam aksi militer.

Pada Rabu, Kepala Keamanan Iran Ali Larijani berangkat dari Oman, tempat ia bertemu dengan Sultan Haitham bin Tariq Al Said dan menteri luar negeri negara itu untuk membahas hasil pembicaraan antara pejabat AS dan Iran di kesultanan tersebut pekan lalu, menuju Qatar.

Qatar, yang menjadi tuan rumah instalasi militer AS besar yang diserang Iran pada Juni setelah serangan Washington ke situs nuklir Iran, telah menjadi penengah kunci dengan Iran di masa lalu.

Larijani diharapkan bertemu dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani selama kunjungan ini, yang terjadi tak lama setelah sang emir membahas upaya de-eskalasi dan stabilitas regional dalam percakapan telepon dengan Trump, demikian pernyataan Diwan Emiri pada Rabu.

MEMBACA  Seorang Dokter Gaza Meninggal di Tahanan Israel, Kata Kelompok Palestina

Emir dan Trump membahas "dukungan terhadap upaya diplomatik yang bertujuan menangani krisis melalui dialog dan cara-cara damai," kata Diwan tersebut.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Trump di Washington pada Rabu, di mana pemimpin Israel tersebut diharapkan menyampaikan kekhawatiran pemerintahnya atas segala potensi kesepakatan dengan Iran.

Netanyahu telah menyatakan akan menyampaikan "prinsip-prinsip" untuk bernegosiasi dengan Iran selama kunjungannya, di mana ia juga dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

Tinggalkan komentar