Mesin vs Jurnalisme Manusia: Ringkasan dan Tanggapan Wamenkomdigi

Selasa, 10 Februari 2026 – 11:10 WIB

Jakarta, VIVA – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria memastikan pemerintah hadir untuk jaga ekosistem informasi publik dan pertahankan jurnalisme yang berkualitas.

Baca Juga :


Big Tech Bakar Duit Rp10.000 Triliun demi AI

Kebijakan hak penerbit, transparansi pemakaian konten oleh teknologi kecerdasan buatan (AI), serta prinsip kompensasi yang adil untuk industri media menjadi bagian dari arah kebijakan digital nasional.

“Langkah ini bertujuan menjaga keberlangsungan jurnalisme berkualitas dan lindungi hak publik atas informasi yang utuh dan bisa dipercaya,” ujarnya, Selasa, 10 Februari 2026.

Baca Juga :


Aktivitas Keluarga Berubah di Masa Depan, Peran AI Kian Dominan

Menurut dia, kecerdasan buatan (AI) bukan ancaman karena menggantikan wartawan. Ancaman utama saat ini adalah praktik pengambilan nilai jurnalisme tanpa pengembalian yang adil.

Konten media diserap oleh platform dan mesin AI, lalu disajikan kembali dalam bentuk ringkasan. Media kehilangan trafik, pendapatan, dan posisi strategisnya sebagai rujukan publik.

Baca Juga :


Jurnalisme vs Konten AI, Begini Kata Nezar Patria

“Ancaman terbesar jurnalisme hari ini bukan wartawan digantikan oleh artificial intelligence, tetapi nilai jurnalisme diambil tanpa pengembalian yang adil ke media,” ungkap Wamenkomdigi.

Disrupsi AI menyentuh seluruh rantai ekosistem media. Dampaknya tidak hanya pada ruang redaksi, tetapi juga pada kualitas informasi yang diterima masyarakat. “Proses jurnalistik yang berbasis verifikasi dan kerja lapangan tergerus oleh konsumsi ringkasan instan,” kata Nezar Patria.

Ia menegaskan bahwa ringkasan mesin tidak sama dengan karya jurnalistik. Jurnalisme menghadirkan konteks, disiplin verifikasi, dan wajah manusia di balik peristiwa.

“Yang dibaca publik akhirnya bukan karya jurnalistik, melainkan ringkasan mesin. Di situ banyak nuansa dan kemanusiaan yang hilang,” tuturnya.

MEMBACA  Ulasan Motorola Razr Ultra dan Razr (2025): Ponsel Lipat Menawan

Menurut Wamenkomdigi, masa depan media ditentukan oleh jurnalisme yang tidak bisa direplikasi mesin. Liputan lapangan, investigasi, dan cerita komunitas menjadi pembeda di tengah banjir konten sintetis.

“Jika media hanya bergantung pada platform tanpa kekhasan, kita akan diseragamkan oleh mesin kecerdasan buatan,” jelasnya.

AI Jadi Mesin Cuan Indosat di 2025

PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (IOH/ISAT) menutup kuartal IV 2025 dengan kinerja yang positif, di mana hal tersebut menjadi panduan untuk melaju di tahun ini.

VIVA.co.id

10 Februari 2026

Tinggalkan komentar