Aktivis Perempuan Narges Mohammadi Divonis Lebih dari Tujuh Tahun Penjara
Aktivis hak perempuan tersebut ditangkap pada Desember lalu saat menghadiri upacara peringatan di Mashhad.
Dengarkan artikel ini | 3 menit
info
Diterbitkan Pada 8 Feb 2026
Klik untuk bagikan di media sosial
share2
Aktivis HAM Iran dan penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2023, Narges Mohammadi, telah dijatuhi hukuman penjara lebih dari tujuh tahun, menurut pengacaranya dan kelompok pendukungnya.
Mohammadi (53) baru saja mengakhiri aksi mogok makan selama seminggu pada Minggu, demikian pernyataan Yayasan Narges. Disebutkan, Mohammadi memberitahu pengacaranya, Mostafa Nili, dalam sambungan telepon dari penjara bahwa vonis telah diterimanya pada Sabtu.
Rekomendasi Cerita Lainnya
list of 3 items
end of list
“Ia dihukum enam tahun penjara atas dakwaan berkumpul dan berkomplot untuk melakukan kejahatan,” ujar Nili kepada AFP.
Ditambahkannya, Mohammadi juga mendapat hukuman satu setengah tahun penjara untuk aktivitas propaganda serta diasingkan selama dua tahun ke kota Khosf di Provinsi Khorasan Selatan.
Laporan tersebut juga menyebutkan adanya larangan bepergian ke luar negeri selama dua tahun baginya.
Nili menyatakan vonis ini belum inkrah dan dapat diajukan banding. Ia berharap kliennya dapat sementara waktu “dibebaskan dengan jaminan untuk mendapat perawatan” mengingat kondisinya yang terganggu.
Mohammadi memulai mogok makan sejak 2 Februari untuk memprotes kondisi penahanannya serta larangan bertelepon dengan pengacara dan keluarga.
“Narges Mohammadi mengakhiri mogok makannya hari ini pada hari keenam, sementara laporan menunjukkan kondisi fisiknya sangat mengkhawatirkan,” tutur yayasan tersebut.
Mohammadi mengatakan kepada Nili bahwa ia baru dipindahkan ke rumah sakit tiga hari lalu akibat memburuknya kesehatannya.
“Namun, ia dikembalikan ke pusat tahanan keamanan Kementerian Intelijen di Mashhad sebelum perawatannya selesai,” imbuh pernyataan itu.
“Penahanannya yang berlanjut mengancam jiwa dan melanggar hukum hak asasi manusia.”
Mohammadi merupakan wanita Iran kedua yang meraih Nobel Perdamaian, setelah Shirin Ebadi pada 2003 atas upaya promosi demokrasi dan HAM.
Sebagai penulis dan jurnalis ternama, Mohammadi menjabat Wakil Direktur Defenders of Human Rights Center (DHRC)—organisasi yang lama berdedikasi membela tahanan politik dan mendorong reformasi HAM di Iran. Di luar advokasi kesetaraan gender, ia gencar berkampanye menentang hukuman mati dan korupsi.
Perjuangannya selama 20 tahun untuk hak perempuan menjadikannya simbol kebebasan, demikian penjelasan Komite Nobel pada 2023.
Mohammadi ditangkap pada 12 Desember setelah mengutuk kematian mencurigakan pengacara Khosrow Alikordi.
Jaksa Hasan Hematifar waktu itu mengatakan kepada wartawan bahwa Mohammadi membuat pernyataan provokatif dalam upacara peringatan Alikordi di Kota Mashhad dan mendorong hadirin “untuk meneriakkan slogan-slogan yang melanggar norma” serta “mengganggu ketertiban”.