Otoritas Selidiki Pembunuhan Saif al-Islam Gaddafi, Anak yang Pernah Dijuluki Perdana Menteri De Facto di Bawah Kepemimpinan Ayahnya
Dengarkan artikel ini | 3 menit
Dipublikasikan pada 6 Feb 2026
Ribuan orang menghadiri pemakaman Saif al-Islam Gaddafi, putra paling terkemuka dari mendiang pemimpin Libya Muammar Gaddafi, yang tewas ditembak pekan ini. Prosesi pemakaman berlangsung pada Jumat di kota Bani Walid, sekitar 175 kilometer di selatan Tripoli.
Hampir 15 tahun setelah sang ayah digulingkan dan dibunuh dalam pemberontakan 2011 yang didukung NATO, ribuan pendukung setia berduka untuk putranya, yang pernah dipandang sebagai penerus utama sang mantan pemimpin.
Saif al-Islam Gaddafi terbunuh pada Selasa di kediamannya di kota Zintan, barat laut Libya. Kantornya menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ia tewas selama "konfrontasi langsung" dengan empat orang bersenjata tak dikenal yang menerobos masuk ke rumahnya.
Kantor Jaksa Agung Libya menyebutkan bahwa penyelidik dan dokter forensik telah memeriksa jenazah pria 53 tahun itu dan memastikan bahwa penyebab kematiannya adalah luka tembak. Kantor tersebut kini berupaya mengidentifikasi para tersangka.
"Kami di sini untuk mengantar orang tercinta kami, putra dari pemimpin kami, tempat kami menaruh harapan dan masa depan kami," ujar Waad Ibrahim, seorang perempuan 33 tahun asal Sirte yang datang dari jarak hampir 300 kilometer dari Bani Walid.
Negara yang Terbelah
Saif al-Islam Gaddafi pernah digambarkan sebagai perdana menteri de facto di bawah kepemimpinan otoriter ayahnya yang berkuasa selama 40 tahun. Ia membangun citra sebagai figur moderat dan reformis meski tidak menduduki jabatan resmi.
Mengklaim diri sebagai seorang reformer, ia memimpin pembicaraan mengenai rencana Libya meninggalkan senjata pemusnah massal dan bernegosiasi mengenai kompensasi bagi keluarga korban pengeboman Pan Am Penerbangan 103 di atas Lockerbie, Skotlandia, pada 1988.
Namun, reputasi itu segera runtuh ketika ia mengancam akan menumpahkan "sungai-sungai darah" sebagai balasan atas pemberontakan 2011. Insiden itu berujung pada penangkapannya di tahun yang sama berdasarkan surat perintah dari Pengadilan Pidana Internasional atas dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Pada 2021, ia mengumumkan pencalonannya sebagai presiden, tetapi pemilihan umum yang bertujuan mempersatukan negara terbelah di bawah kesepakatan Pernaerintah Bangsa-Bangsa itu ditunda tanpa batas waktu.
Kini, Libya tetap terbagi antara pemerintahan Perdana Menteri Abdul Hamid Dbeibah yang didukung PBB di Tripoli dan administrasi di timur yang didukung Khalifa Haftar.
Pembunuhan Gaddafi—yang oleh banyak pihak dipandang sebagai alternatif dari duopoli kekuasaan di negara itu—terjadi kurang dari sepekan setelah dilaporkannya pertemuan 28 Januari di Istana Élysée, Prancis, yang mempertemukan putra Haftar dan para penasihat Dbeibah.