Olimpiade Musim Dingin 2026: Alasan Saya Terpesona pada Olahraga Curling

Pertama kali saya menyaksikan pertandingan curling Olimpiade di televisi, terlintas pikiran yang pasti dialami semua orang yang baru melihat olahraga ini: Apa sebenarnya yang sedang saya tonton ini?

Itu terjadi selama Olimpiade 2002 di Salt Lake City, Utah, dan saya menyetel siaran langsung tepat di awal pertandingan medali putri. Saya terpana oleh keluwesan para atlet dan cara mereka meluncurkan batu besar berbentuk seperti bola di atas es dengan tampak mudah.

Namun, segalanya selain itu justru membingungkan. Olahraga ini mirip seperti *shuffleboard*, tapi dengan lebih banyak teriakan dan berbagai hal aneh. Aturannya, istilah-istilahnya, cara mereka menggunakan sapu—sapu!—untuk mengarahkan batu. Rasanya sangat membosankan. Bagaimana mungkin orang bertahan menonton olahraga yang tampak kurang atletis, dengan alur permainan yang sulit ditebak dan tempo yang begitu lamban?

Namun, menjelang dua jam, saya justru terpikat. Saya masih belum paham fungsi sapu itu, tapi mulai mengerti aturan dasarnya. Istilah-istilahnya pun mulai masuk akal. Dan saya benar-benar terserap dalam dramanya. Begitu pertandingan usai, saya segera atur DVR (masih ingat?) untuk merekam semua siaran curling hingga Olimpiade berakhir, termasuk tayangan ulang. Saya ketagihan. Pertemuan kebetulan dengan olahraga yang dianggap nisbi ini berujung pada dahaga yang tak terpuaskan untuk menyaksikannya lagi, seketika itu juga.

Curl You Know It’s True

Curling mutlak merupakan olahraga terbaik untuk ditonton di televisi, terutama bagi penonton yang ingin menghindari hiruk-pikuk tuntutan “lebih, lebih cepat, lebih besar, lebih tinggi” dari kebanyakan siaran olahraga. Menonton basket atau hoki bisa membuat Anda begitu bersemangat, serasa ingin minum Red Bull dan melakukan jumping jack. Menonton curling justru membuat Anda ingin meneguk segelas anggur merah dan bersandar di karpet berbulu. Curling itu penuh perhitungan. Bahkan, penuh renungan. Permainannya bergerak sangat pelan. Para pemain menghabiskan banyak waktu berdiskusi strategi. Ada anggukan dan kata-kata semangat yang tenang; jarang sekali terjadi perselisihan. Saat giliran seorang anggota tim untuk meluncurkan batu, gerakannya elegan. Ada ayunan, dorongan, luncuran, dan lepasan yang lembut. Penuh ketenangan dan keanggunan!

MEMBACA  Delegasi Forum Air Dunia mulai tiba pada 15 Mei: Kementerian

Sebelum penjelasan saya menjadi tak karuan, izinkan saya menerangkan permainannya. Curling memang menyerupai *shuffleboard* (atau bocce dan pétanque), dimana tujuannya adalah menempatkan sebanyak mungkin *game pieces* sedekat mungkin dengan target di ujung arena. Setiap tim terdiri dari empat pemain. Satu pemain meluncurkan batu di atas es, sementara dua pemain lain menyapu es di depan batu menggunakan sapu untuk mengontrol kecepatan dan arah luncurannya.

Lalu, ada semua istilah lucu itu. Batunya disebut “*rock*”. Arena permainan disebut “*sheet*”. Target di ujung *sheet* dinamai “*house*”. Perlengkapannya pun unik: sepatu khusus, sapu-sapu itu, dan batunya sendiri. Potongan granit halus seberat 44 pon itu mengeluarkan suara ‘dug’ yang khas saat saling bertabrakan. (Tentu ada emoji batu curling.) Batu meluncur dengan karakter berbeda bergantung kondisi *sheet*, bisa lurus atau melengkung alami, dan penyapuan dapat mengontrol faktor-faktor ini. Kapten tim disebut “*skip*”. *Skip*-lah yang paling banyak berteriak, yang dikenal sebagai “*line calling*”. Ini adalah perintah untuk para penyapu agar mereka menyapu lebih “*hard*” (keras) atau “*easy*” (ringan).

Setiap ronde permainan disebut “*end*”. Setiap tim meluncurkan delapan batu per *end*. Semakin banyak batu Anda di *house*, semakin banyak poin yang didapat, meski hanya satu tim yang bisa mencetak poin per *end*. Poin pemenang dihitung di akhir setiap *end*; setelah 10 *end*, tim dengan poin terbanyak memenangkan pertandingan.

Tim-tim kuat berasal dari negara-negara yang bisa ditebak; wilayah-wilayah di lingkar Arktik seperti Kanada, Swedia, Norwegia, Denmark, dan Rusia. AS juga cukup disegani di sirkuit internasional. Britania Raya dan Swiss unggul di Olimpiade 2018 dan 2022. Asia belakangan menunjukkan performa kuat—terutama Korea Selatan dan Tiongkok.

MEMBACA  Netflix 'Squid Game' Kembali dengan Musim 3 Besok. Begini Cara Menontonnya

Anda mungkin mengira atletnya tidak atletis. Bagaimanapun, tidak ada lari, lompat, atau *dunk*. Tapi para pecurling hampir semuanya bugar. Itu terlihat dari seragam mereka yang ketat. Dan karena wajah mereka tidak tertutup helm, kacamata, atau alat pelindung apa pun, Anda bisa membaca emosi mereka dalam 4K penuh dan benar-benar kontak mata dengan mereka dari ruang keluarga. Ketika seorang pemain berteriak kesal akibat lemparan buruk, Anda serasa ada di samping mereka.

Tinggalkan komentar