Tanganilah Persoalan Obesitas, Industri Kesehatan Indonesia Akan Kenalkan Terapi Oral

Senin, 2 Februari 2026 – 23:46 WIB

Jakarta, VIVA – Masalah obesitas di Indonesia terus naik dan jadi perhatian serius di sektor kesehatan. Kondisi ini enggak cuma pengaruhin kualitas hidup seseorang, tapi juga tingkatkan risiko penyakit kayak diabetes dan jantung.

Di tengah tantangan ini, pendekatan pengobatan yang lebih praktis dan mudah diterima masyarakat dinilai semakin dibutuhkan.

Tren pilihan terapi oral juga terlihat secara global. Di Amerika Serikat, awal 2026 menjadi momen penting dengan diperkenalkannya terapi turunkan berat badan dalam bentuk pil, sebagai alternatif dari terapi suntik yang selama ini lebih umum.

Baca Juga:
Perangi Obesitas, FDA Setujui Pil Pertama untuk Turunkan Berat Badan

Laporan dari perusahaan data kesehatan AS, IQVIA Holdings Inc., mencatat salah satu produk yang diluncurkan adalah Wegovy versi oral, yang dikembangkan oleh Novo Nordisk.

“Wegovy versi pil mencatat 18.410 resep dalam minggu pertama penuh yang berakhir 16 Januari 2026,” begitu dikutip dari laporan IQVIA.

Bahkan, dalam empat hari awal sejak peluncurannya pada 5 Januari 2026, obat ini sudah dapat 3.071 resep. Angka ini tunjukkan respons awal yang cukup kuat dari pasien.

Peluncuran tablet Wegovy di AS menyasar pasien dengan skema bayar sendiri, karena sebagian besar asuransi belum menanggung obat penurun berat badan. Untuk harga, dosis awal 1,5 mg dan 4 mg dipasarkan dengan harga US$149 per bulan, sementara dosis lanjutan 9 mg dan 25 mg dihargai sekitar US$299 per bulan.

“Perusahaan juga umumkan rencana penyesuaian harga dosis 4 mg jadi US$199 per bulan setelah pertengahan April,” tulis laporan itu.

Bagi Indonesia, perkembangan global ini dinilai relevan. Dengan angka obesitas yang terus naik, kebutuhan akan terapi yang efektif dan mudah dijalankan jadi makin penting. Terapi oral dinilai lebih cocok dengan kebiasaan masyarakat yang sudah terbiasa minum obat bentuk pil.

MEMBACA  CEO Nestle membahas dampak obat penurun berat badan pada industri makanan

Tapi, para ahli kesehatan tekankan bahwa inovasi obat enggak bisa jadi satu-satunya solusi.

“Pengendalian obesitas tetap butuh perubahan gaya hidup, mulai dari pola makan sehat, tingkatkan aktivitas fisik, sampai edukasi kesehatan yang terus-menerus,” ujar laporan tersebut.

Di sisi lain, aspek keterjangkauan juga jadi perhatian. Jika terapi inovatif seperti ini suatu saat tersedia di Indonesia, perlu kajian mendalam tentang harga, regulasi, dan kemungkinan masuknya ke dalam sistem layanan kesehatan nasional. Dengan struktur pembiayaan yang beda dari AS, kebijakan akses harus dirancang agar manfaatnya bisa dirasakan banyak orang.

Tinggalkan komentar