Neraca Perdagangan Indonesia Catat Surplus US$2,51 Miliar pada Desember 2025, Berlanjut 68 Bulan Berturut-Turut

Senin, 2 Februari 2026 – 11:52 WIB

Jakarta, VIVA – Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Deputi Bidang Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, melaporkan bahwa pada Desember 2025 Indonesia kembali mencatat surplus perdagangan sebesar US$2,51 miliar. Dengan ini, total surplus perdagangan telah berjalan selama 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Dia menjelaskan, surplus sebesar US$2,51 miliar pada Desember 2025 itu didukung oleh ekspor yang mencapai US$26,35 miliar, sementara nilai impor berada di US$23,83 miliar.

"Pada Desember 2025, neraca perdagangan barang mencapai surplus US$2,51 miliar, dan telah mencatat surplus selama 68 bulan berturut-turut sejak bulan Mei tahun 2020," kata Ateng dalam telekonferensi pers, Senin, 2 Februari 2026.

Surplus pada Desember 2025 terutama ditopang oleh surplus dari komoditas non-migas sebesar US$4,60 miliar. Beberapa komoditas penyumbang surplus antara lain lemak dan minyak hewan/nabati (kode HS15), bahan bakar mineral (HS27), serta besi dan baja (HS72).

Di saat yang sama, neraca perdagangan untuk komoditas migas justru mencatat defisit sebesar US$2,09 miliar, dengan penyumbang defisit utama yaitu minyak mentah dan hasil olahan minyak.

Secara kumulatif untuk periode Januari hingga Desember 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$41,05 miliar. Surplus ini terutama ditopang oleh surplus komoditas non-migas yang mencapai US$60,75 miliar, sementara sektor migas masih mengalami defisit sebesar US$19,70 miliar.

"Kita lihat perbandingannya surplusnya cukup tinggi, dimana kondisi Januari-Desember 2025 dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024," ujar Ateng.

Suasana kegiatan di terminal peti kemas (Foto ilustrasi).

MEMBACA  BPBD Belum Menerima Laporan Kerusakan Akibat Gempa Magnitudo 4,9 di Sukabumi

Tinggalkan komentar