Sabtu, 31 Januari 2026 – 17:03 WIB
Jakarta, VIVA – Aset kripto terguncang hebat akibat berbagai tekanan global yang **menyebakan** koin utama, Bitcoin (BTC), anjlok menyentuh level US$82.000. Ini menjadi level terendahnya dalam sembilan bulan terakhir. Analis memprediksi Bitcoin berpeluang terjun lebih dalam ke level US$70.000.
Baca Juga :
Susul Bitcoin, Saham Strategy Terkapar Sentuh Level Terendah 52 Minggu
Dikutip dari CoinGecko, Bitcoin sempat menyentuh titik rendah di angka US$82.134 (sekitar Rp1,3 miliar) setelah terkoreksi tajam 7,4 persen dalam 24 jam pada Kamis, 29 Januari 2026.
Berdasarkan pantauan VIVA di CoinMarketCap, Bitcoin **terkokesi** lebih jauh ke level US$81.834,94 pada Jumat, 30 Januari. Bitcoin kemudian bangkit ke level US$84.120 pada Sabtu pagi.
Baca Juga :
Bitcoin Rontok ke Level Terendah 9 Bulan, Likuiditas Rp28 Triliun Lenyap!
Sampai tulisan ini dibuat, Bitcoin diperdagangkan di harga US$83.009,97 atau menguat 0,53 persen dalam 24 jam terakhir. Sedangkan penurunan dalam tujuh hari membukukan dua digit, yakni 10,70 persen.
Baca Juga :
Harga Bitcoin Terkoreksi Tertekan Keputusan The Fed, Indodax: Cerminkan Penyesuaian Pasar
Kepala Riset platform Deribit, Sean Dawson, menilai koreksi Bitcoin saat ini belum mencapai titik dasar. Investor opsi bahkan mulai memasang posisi untuk skenario penurunan ke kisaran US$70.000-75.000.
Ia menyoroti UU Clarity Act yang tengah dibahas di Senat AS sebagai langkah positif. Namun, menurut Dawson, sentimen tersebut belum cukup kuat untuk mendorong pemulihan harga Bitcoin dalam waktu dekat.
“Secara keseluruhan, saya memperkirakan awal Februari yang menyakitkan,” kata Dawson.
Koreksi tajam ini menyeret pasar kripto secara keseluruhan. Total kapitalisasi pasar anjlok 6,7 persen, sementara likuiditas pasar menyusut lebih dari Rp28,1 triliun.
Aksi jual besar-besaran memukul posisi trader, terutama di pasar derivatif. Tekanan terhadap Bitcoin semakin dalam setelah pasar bereaksi negatif terhadap arah kebijakan politik Amerika Serikat.
Usulan Donald Trump untuk mencalonkan Kevin Warsh, mantan Gubernur The Fed yang dikenal sebagai *inflation hawk*, sebagai ketua The Fed berikutnya memicu kekhawatiran investor.
“Pelaku pasar memperkirakan ketua berikutnya adalah Kevin Warsh, kritikus lama pelonggaran kuantitatif. Ini bersifat *bearish* bagi Bitcoin dalam jangka pendek,” ujar analis Fisher8 Capital, Lai Yuen.
Sentimen negatif juga datang dari kebijakan agresif Presiden AS Donald Trump yang menandatangani perintah darurat nasional terkait tarif bagi pemasok minyak ke Kuba, serta meningkatnya spekulasi intervensi AS di Iran.