Analis: Bitcoin Diprediksi Terus ‘Berdarah’ Dibandingkan Saham, Apa Penyebabnya?

Jumat, 30 Januari 2026 – 19:10 WIB

Jakarta, VIVA – Tekanan besar kembali melanda pasar kripto global. Setelah penurunan tajam yang bawa harga Bitcoin turun, banyak analis berpendapat bahwa pelemahan ini mungkin belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Baca Juga:
Transaksi Kripto 2025 Turun, Bos Indodax Jelaskan Tantangannya

Namun, beberapa prediksi yang justru optimis datang dari sejumlah tokoh di pasar.

Seperti diketahui, dalam gejolak pasar terbaru, aksi jual besar-besaran di berbagai aset global kabarnya memotong sekitar US$3 triliun nilai pasar dalam waktu kurang dari satu jam. Penurunan tidak cuma terjadi di aset kripto, tapi juga logam mulia seperti emas dan perak, yang turun tajam dari posisi tertinggi mereka.

Baca Juga:
Korban Dugaan Penipuan Kripto Seret Timothy Ronald Diperiksa 10 Jam! Dihadapi 43 Pertanyaan

Bitcoin sempat jatuh di bawah US$83.000 sebelum naik lagi. Tapi, perubahan harga yang ekstrem ini bikin khawatir bahwa pasar masih dalam kondisi rentan, dengan risiko tekanan bisa lanjut.

Beberapa analis menilai guncangan ini terkait dengan likuidasi paksa, margin call, dan perubahan sikap investor ke mode risk-off. Kondisi seperti ini biasanya tandanya investor mengurangi kepemilikan aset berisiko, termasuk kripto.

Baca Juga:
Bitcoin Ancur Sentuh Level US$86.000 Menjelang Keputusan Suku Bunga The Fed

Analis pasar kripto Victor Olanrewaju berpendapat meski fase terburuk dari likuidasi paksa mungkin sudah lewat, jejak tekanan masih terlihat. Dia menulis bahwa likuidasi besar telah tinggalkan "celah" di posisi dan open interest yang belum sepenuhnya tertutup, sehingga risiko ketidakstabilan masih ada.

Pandangan lebih pesimis datang dari Benjamin Cowen, pendiri platform analisis Into The Cryptoverse. Dia menilai Bitcoin sudah masuk fase pasar bearish setelah puncaknya di Oktober 2025. "Saya memang pikir Bitcoin, sebenarnya, sudah di pasar bearish," ujarnya, seperti dikutip dari CCN.

MEMBACA  Saham Asia Meningkat Setelah BOJ Meredakan Kekhawatiran Tingkat: Wrap Pasar

Dia berargumen bahwa secara historis, Bitcoin sering capai puncak di kuartal keempat pada tahun setelah pemilu AS, dan siklus kali ini terlihat ikut pola yang mirip. "Alasan Bitcoin turun, bisa dibilang, karena memang di periode inilah biasanya dia turun," kata Cowen. "Dia selalu mencapai puncak di kuartal keempat tahun pasca pemilu," jelasnya.

Menurutnya, pola kali ini mirip dengan penurunan di tahun 2019, di mana harga melemah secara perlahan di tengah sikap apatis investor, bukan euforia spekulatif. "Kalau puncaknya terjadi saat pasar apatis, kamu akan lihat penurunan yang lebih lambat dan bertahap untuk sementara waktu," ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Cowen juga peringatkan bahwa aset kripto bisa tetap tertekan bahkan saat pasar saham menguat, jika likuiditas global masih ketat. "Perkiraan saya kripto akan terus turun," katanya. "Bitcoin kemungkinan akan terus ‘berdarah’ dibandingkan pasar saham."

Tinggalkan komentar