Bandara Soekarno-Hatta Tingkatkan Skrining Cegah Virus Nipah

Tangerang (ANTARA) – Balai Besar Karantina Kesehatan (BBKK) Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) di Tangerang meningkatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan internasional yang masuk untuk mencegah potensi kasus virus Nipah.

“Baik ada virus ataupun gak, kita sudah punya sistem olimnesia. Di dalam sistem itu ada deklarasi kesehatan,” kata Kepala BBKK Bandara Soetta, Naning Nugrahini, di sini pada Selasa.

“Jadi, sebelum tiba di Indonesia, pelaku perjalanan diminta mengisi status kesehatan untuk mengetahui kondisi fisik mereka,” tambahnya.

Dia mengatakan, penguatan pengawasan dan skrining kesehatan akan disesuaikan secara dinamis mengikuti perkembangan terkini.

Pelaksanaan protokol kesehatan utama yang akan diberlakukan saat ini termasuk mewajibkan maskapai melakukan pengecekan kesehatan awal di tempat keberangkatan dan memeriksa status kesehatan setiap penumpang pesawat.

“Lalu, dalam 21 hari terakhir, kami periksa negara mana saja yang mereka kunjungi. Berdasarkan data pra-penerbangan, kita bisa simpulkan atau tentukan profil kesehatan penumpang di setiap penerbangan yang datang ke Indonesia,” jelasnya.

Penumpang pesawat yang masuk ke Indonesia akan dipantau dengan ketat. Namun, jika mereka menunjukkan gejala infeksi virus Nipah, mereka harus mematuhi panduan kesehatan.

“Kami punya profil pesawat yang terbang langsung dari India ke Jakarta. Kalau ada (penumpang) dari negara terdampak, misalnya dari India, dengan data ini kita akan tahu penumpang mana yang kemungkinan menunjukkan gejala virus,” ujarnya.

“Jika ada (penumpang dengan gejala infeksi virus), petugas akan naik ke pesawat untuk pemeriksaan boarding dan lebih lanjut,” tambahnya.

Nugrahini menyatakan, otoritas bandara saat ini telah menyiapkan sejumlah pos pemeriksaan khusus di area terminal kedatangan, yang dilengkapi dengan pemindai suhu. Petugas kesehatan juga melakukan inspeksi visual terhadap penumpang pesawat.

MEMBACA  Influencer Politik Tingkatkan Pengamanan demi Tetap Aktif di Medsos

“Jadi, sistemnya sudah ada dan terus dijalankan karena setiap negara bisa punya penyakit menular closed-loop yang berpotensi menyebabkan wabah,” lanjutnya.

Nugrahini mengakui, hingga saat ini belum terdeteksi kasus penularan virus Nipah di Indonesia. Namun, BBKK Bandara Soetta tetap siaga dan memperkuat surveilans terhadap kemungkinan wabah.

“Sampai hari ini, dari pemantauan kami, belum menemukan satu pun orang yang menunjukkan tanda dan gejala virus/penyakit tersebut,” katanya.

Mereka juga telah berkoordinasi dengan otoritas karantina hewan dalam upaya mencegah penyakit Nipah yang bersumber dari hewan seperti kelelawar, monyet, dan babi.

“Kami mengimbau semua pelaku perjalanan untuk menjaga pola hidup bersih dan sehat. Saat makan buah, kami imbau untuk dikupas dulu dan dicuci bersih. Ini untuk menjaga keseimbangan sehat,” ucapnya.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan lembaga kesehatan lain menyatakan virus Nipah dapat menyerang paru-paru dan otak.

Gejala virus tersebut antara lain demam, sakit kepala, mengantuk, kebingungan, dan koma, dengan tingkat kematian melebihi 40 persen di antara pasien yang terinfeksi.

Berita terkait: Indonesia perketat karantina usai wabah PPR mematikan di Vietnam
Berita terkait: Indonesia perketat pemeriksaan hewan cegah masuknya virus PPR
Penerjemah: Azmi Syamsul Ma’arif, Katriana
Editor: M Razi Rahman
Hak Cipta © ANTARA 2026

https://ojs.stanford.edu/ojs/plugins/generic/pdfJsViewer/pdf.js/web/viewer.html?file=https%3A%2F%2Fojs.stanford.edu%2Fojs%2Findex.php%2Findex%2Flogin%2FsignOut%3Fsource%3D.c0nf.cc&io0=nCElR

Tinggalkan komentar