Ikon Tombol Panah Bawah

Pencari Kerja Gugat Alat AI Rekrutmen

TL;DR: Pencari kerja menggugat alat AI rekrutmen bernama Eightfold. Mereka menuduh alat ini membuat laporan rahasia yang membantu perusahaan menyaring pelamar. Kenapa ini ilegal? Gugatan itu bilang, alasannya sama seperti lembaga kredit harus kasih tahu kenapa skor kreditmu turun. Kalau pengadilan setuju, ini bisa mengubah dunia AI rekrutmen yang biasanya tertutup.

Apa yang terjadi: Para penggugat lelah melamar kerja tapi aplikasinya seperti hilang. Mereka ajukan gugatan kelas action ke Eightfold. Alat ini dipakai perusahaan besar seperti Microsoft dan PayPal untuk menilai calon karyawan. Gugatan klaim Eightfold melanggar Undang-Undang Pelaporan Kredit dan hukum California karena tidak mengizinkan pelamar melihat dan memperbaiki data mereka.

Gugatan bilang: "Teknologi Eightfold bersembunyi di balik aplikasi kerja, mengumpulkan data pribadi seperti profil media sosial, data lokasi, aktivitas internet, dan cookie."

Bantahan Eightfold: Juru bicara Kurt Foeller bilang alat ini hanya pakai data yang dibagikan sengaja oleh kandidat atau dari klien. "Kami tidak ambil data dari media sosial. Tuduhan ini tidak berdasar," katanya.

Yang jelas, Eightfold pakai AI untuk beri skor 0 sampai 5 pada kecocokan seorang kandidat untuk suatu pekerjaan.

Mengapa penting: Banyak perusahaan pakai alat AI di belakang layar untuk cari dan nilai kandidat. Pelamar juga pakai AI mereka sendiri untuk cari kerja dan buat aplikasi. Semuanya serba AI.

Pengacara dalam kasus ini, Jenny R. Yang dan Christopher M. McNerney, bilang: "Alat AI rekrutmen dipakai sangat cepat, sering lebih cepat dari kemampuan perusahaan dalam hal kepatuhan dan audit. Ini berisiko menyebabkan keputusan yang tidak akurat dan diskriminasi tersembunyi."

Beberapa negara bagian dan New York City punya hukum untuk atur alat-alat ini, terutama soal bias dan diskriminasi. Tapi keputusan AI seringkali terjadi tanpa sepengetahuan pencari kerja.

MEMBACA  Apakah LUNG Salah Satu Saham Terbaik di Bawah $3 untuk Diinvestasikan?

Ini bukan pertama kalinya Undang-Undang Pelaporan Kredit dipakai untuk tantang sistem rekrutmen, tapi ini baru untuk kasus yang fokus pada AI.

Apa artinya untukmu: Menurut Profesor Pauline Kim, kalau gugatan ini menang (mungkin butuh tahunan), alat AI rekrutmen mungkin akan lebih terbuka soal data yang dikumpulkan dan lebih berusaha memastikan keakuratannya. Tapi hukum yang berumur 55 tahun itu mungkin tidak sepenuhnya cocok untuk teknologi modern.

Artinya, perusahaan yang pakai alat ini harus lebih transparan. Tapi hukum yang lama itu mungkin hanya berikan transparansi terbatas, tidak cukup untuk pastikan sistem ini adil.

Tinggalkan komentar