Kementerian: Transfer Teknologi Tinggi Pacu Kemajuan Cepat di Bidang Kesehatan

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa alih teknologi tinggi mendukung upaya nasional menuju ketahanan alat kesehatan, serta mendorong kemajuan dalam dua program quick win, yaitu Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan peningkatan 66 rumah sakit daerah.

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalusia, mengatakan di sini pada Senin bahwa inisiatif alih teknologi tinggi antara Philips, Graha Teknomedika, dan Panasonic Healthcare Indonesia selaras dengan agenda transformasi kesehatan dan program quick win.

Dalam inisiatif ini, perangkat ultrasound dan monitor pasien Philips termasuk dalam alih teknologi. Andalusia menyebut bahwa pada 2026, pemerintah menargetkan partisipasi 130 juta orang dalam CKG, program yang bertujuan untuk pencegahan dan perawatan penyakit katastropik.

“Tentu saja, kesuksesan skrining kesehatan gratis ini harus didukung oleh fasilitas diagnostik yang memadai di setiap fasyankes primer. Salah satunya adalah peralatan ultrasound,” ujarnya.

Lebih lanjut, agenda quick win presiden lainnya yang penting adalah meningkatkan kapabilitas dan kompetensi 66 rumah sakit daerah, dari kelas D ke kelas C. Ia menekankan pentingnya peningkatan ini dalam memberikan pelayanan untuk penyakit prioritas, yang mencakup kanker, penyakit jantung, gangguan saraf, serta penyakit urologi dan nefrologi.

Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan peningkatan signifikan pada infrastruktur dan fasilitas, khususnya melalui produksi lokal alat kesehatan canggih. Produksi lokal membantu memastikan ketersediaan alat diagnostik yang lebih efektif dengan harga terjangkau.

“Saat kita maju menuju tujuan nasional Indonesia Emas 2045, Kemenkes memandang pertumbuhan industri alat kesehatan tidak hanya sebagai ekspansi bisnis, tetapi sebagai penggerak kritis untuk transisi Indonesia ke ekonomi berbasis inovasi teknologi tinggi,” tambahnya.

Ia berharap kemitraan ini dapat menginspirasi produsen dan investor lain untuk melokalisasi produksinya di Indonesia, lebih mendorong pertumbuhan industri alat kesehatan teknologi tinggi.

MEMBACA  Godmother of AI": Gelar Akademis Kalah Penting Dibanding "Seberapa Cepat Anda Meningkatkan Kemampuan Secara Drastis

“Yang tak kalah penting, dengan menjalin kemitraan ini, kami berkontribusi pada ekosistem kesehatan yang lebih stabil dan andal di Indonesia,” catat Andalusia.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur Philips APAC Stephanie Sievers menyatakan mereka menggabungkan inovasi tingkat global perusahaan dengan keahlian lokal untuk memberikan solusi yang berdampak positif bagi kesehatan di Indonesia.

“Manufaktur lokal memungkinkan kami mempersingkat waktu pengiriman, memperkuat ketahanan pasokan, dan membangun kapabilitas alat kesehatan lokal. Yang paling penting, ini melayani kebutuhan pasien di seluruh negeri,” kata Sievers.

Dia mengatakan produk ultrasound mereka menawarkan fitur seperti resolusi tinggi, pencitraan real-time, dan alat berbasis AI yang memungkinkan aplikasi klinis luas, termasuk kardiologi dan kesehatan wanita.

Sementara produk monitor pasien mereka dipercaya secara global untuk akurasi, alarm cerdas, analitik lanjutan, dan integrasi sistem dalam sistem rumah sakit, imbuhnya.

Presiden Direktur Philips Indonesia Astri Ramayanti Dharmawan menyampaikan harapan agar inisiatif perusahaannya dapat mendukung agenda transformasi kesehatan nasional sekaligus memperkuat industri dalam negeri dengan menciptakan lapangan kerja melalui manufaktur lokal.

Berita terkait: Di WEF 2026, Prabowo soroti program Cek Kesehatan Gratis Indonesia

Berita terkait: Papua Barat manfaatkan ruang publik untuk tingkatkan partisipasi Cek Kesehatan Gratis

Berita terkait: Indonesia masukkan skrining kusta dalam cek kesehatan gratis

Reporter: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar