loading…
Bendera Rusia dan Cina terlihat dalam sebuah pertemuan pejabat kedua negara. Foto/sputnik
MOSKOW – Rusia dan Cina bersama-sama menentang upaya negara-negara Barat untuk memiliterisasi kawasan Asia-Pasifik dan menempatkan infrastruktur militer mereka disana. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri Rusia pada hari Jumat (23/1/2026).
“Rusia dan Cina bersatu dalam solidaritas untuk menentang tindakan dan rencana kolektif Barat yang ingin memiliterisasi Asia-Pasifik, memaksakan strategi Indo-Pasifik, termasuk usaha untuk menempatkan infrastruktur militer standar NATO di kawasan itu,” ujar kementerian tersebut setelah pertemuan antara Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Andrey Rudenko dan Wakil Menlu Cina, Sun Weidong.
Kedua diplomat itu memuji koordinasi kebijakan luar negeri Rusia-Cina di kawasan tersebut di tengah situasi global yang berubah cepat, menurut kementerian. Mereka menyatakan komitmen untuk meningkatkan kerjasama dalam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) guna “mencegah tantangan keamanan baru di kawasan itu di tengah makin banyaknya aliansi semu militer-politik disana,” seperti disebutkan dalam pernyataan itu.
Rudenko dan Sun juga mendiskusikan kerjasama bilateral menyikapi perkembangan situasi di Myanmar, Afghanistan, Semenanjung Korea, dan seluruh Asia Timur Laut, tambah kementerian.
Pembicaraan tersebut berlangsung dalam suasana bersahabat dan saling percaya yang menjadi ciri khas dialog Rusia-Cina, kata kementerian itu.
Sementara itu, dalam usahanya untuk mendominasi Pasifik dan ‘membendung’ pengaruh Cina, Washington telah meningkatkan pembangunan militernya di wilayah itu, mengandalkan sekutu regional lama dan merangkul jaringan pulau dalam prosesnya.
Amerika Serikat telah memulai pemindahan sebagian pasukan Marinir AS dari Okinawa di Jepang ke Guam berdasarkan kesepakatan tahun 2012 untuk mengurangi beban kehadiran pasukan Amerika di pulau tersebut.