Apakah atasan Anda selalu menggembar-gemborkan keunggulan AI di tempat kerja, sementara Anda sendiri tidak merasakan manfaat AI dalam peran Anda? Ternyata, Anda tidak sendirian.
Sebuah studi baru dari firma konsultan AI, Section, yang mensurvei 5.000 karyawan kerah putih, menemukan kesenjangan besar antara pekerja dan manajer terkait AI dan produktivitas.
Dalam studi tersebut, 33 persen eksekutif perusahaan menyatakan bahwa penggunaan AI menghemat waktu mereka 4 hingga 8 jam per minggu. Sebanyak 19 persen lainnya mengklaim mereka menghemat lebih dari 12 jam setiap minggu berkat AI. Hanya 2 persen eksekutif yang mengatakan AI tidak menghemat waktu mereka sama sekali.
Namun, ketika menyangkut karyawan non-manajerial, sentimen seputar AI benar-benar berbalik.
Sebanyak 40 persen pekerja menyatakan bahwa menggunakan AI di tempat kerja tidak menghemat waktu mereka sama sekali. Lalu, 27 persen pekerja lainnya mengatakan penggunaan AI menghemat mereka kurang dari 2 jam per minggu, dan hanya 2 persen karyawan yang menyebut AI menghemat lebih dari 12 jam per minggu.
Mashable Light Speed
Sementara itu, laporan AI lain yang cukup mencengangkan dari perusahaan perangkat lunak Workday, seperti dicatat Wall Street Journal, menyatakan bahwa bahkan perkiraan tadi mungkin berlebihan. Dalam survei Workday, 85 persen karyawan yang mengklaim AI menghemat waktu mereka justru menghabiskan waktu yang “tersimpan” itu untuk mengoreksi kesalahan yang dibuat oleh AI.
AI tentu dapat menjadi alat produktivitas bagi industri tertentu. Menurut studi tersebut, sektor teknologi adalah yang paling mengadopsi AI. Beberapa pengembang perangkat lunak mampu memanfaatkan AI untuk mempercepat tugas coding yang monoton, meski berisiko membuat kesalahan vibe coding.
Namun, industri lain belum merasakan manfaat yang sama. Ritel berada di urutan terbawah dalam studi Section. Secara keseluruhan, 85 persen responden tidak memiliki kasus penggunaan AI terkait pekerjaan atau hanya berada di tingkat pemula.
Laporan Section juga menemukan bahwa 40 persen pekerja tidak keberatan untuk tidak pernah menggunakan AI lagi.
Hal ini menggemakan peringatan tentang AI pekan ini di Davos dari CEO Microsoft, Satya Nadella, yang mendorong industri untuk menilai apakah manfaat teknologi ini benar-benar sampai ke pengguna rata-rata.
“Kita akan cepat kehilangan izin sosial untuk menggunakan sesuatu seperti energi, yang merupakan sumber daya langka,” kata Nadella, jika sistem AI “tidak meningkatkan hasil kesehatan, hasil pendidikan, efisiensi sektor publik, daya saing sektor swasta di semua sektor, baik kecil maupun besar.”
Kini, laporan dari Section dan Workday ini mengindikasikan bahwa izin sosial tersebut dengan cepat memudar—jika pun AI pernah memilikinya sejak awal. Dan hal ini tentu harus menjadi perhatian serius bagi perusahaan-perusahaan yang bertaruh besar pada AI.