Indonesia dan China Luncurkan Laboratorium Bersama untuk Percepatan Layanan Kesehatan Berbasis Kecerdasan Buatan

Jakarta (ANTARA) – Indonesia dan China telah sepakat untuk memperdalam kerjasama di bidang kesehatan digital dengan mendirikan laboratorium bersama yang fokus pada kecerdasan buatan dalam dunia medis. Langkah ini dikatakan Jakarta akan mempercepat reformasi sistem kesehatan dan memperkuat industri medis dalam negeri.

Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menyatakan pada Selasa bahwa Kementerian Kesehatan Indonesia, Universitas Kedokteran Xuzhou (XZMU), dan Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah menandatangani nota kesepahaman tripartit untuk mendirikan Laboratorium Bersama untuk Kedokteran Digital dan Kesehatan Proaktif.

Menurut Octavianus, inisiatif ini akan mendukung kolaborasi dalam pengobatan, riset, standardisasi, dan industri alat kesehatan, dengan penekanan kuat pada penggunaan teknologi digital yang aman dan teregulasi.

“Kerjasama ini memberikan landasan penting untuk mengembangkan sistem kesehatan digital dan menerapkan AI dalam kedokteran, yang bertujuan meningkatkan kualitas layanan publik,” ujarnya.

Laboratorium bersama ini diharapkan menjadi pusat riset terapan dan inovasi, membantu Indonesia mengadaptasi teknologi terkini untuk kebutuhan lokal sekaligus memastikan kepatuhan terhadap standar nasional.

Dalam kunjungannya ke China, Octavianus menyatakan delegasi Indonesia meninjau penerapan AI di layanan kesehatan primer, termasuk penggunaan alat digital untuk meningkatkan diagnosis dini dan manajemen pasien.

Mereka juga mengkaji kemajuan alat diagnosis berbasis tes molekuler cepat untuk tuberkulosis (TBC), penyakit yang terus diperangi Indonesia sebagai bagian dari program eliminasi nasional.

Berita terkait: Indonesia dan China perkuat kolaborasi di bidang vaksin dan genomik

Octavianus menyebut Indonesia mendorong transfer teknologi dan penguatan industri alat kesehatan dalam negeri, termasuk rencana mengembangkan fasilitas produksi lokal untuk kit tes molekuler cepat.

“Kerjasama internasional harus membawa manfaat nyata bagi kapasitas nasional kita, bukan hanya akses teknologi tetapi juga kemampuan untuk memproduksi dan berinovasi secara mandiri,” tegasnya.

MEMBACA  Kode Promo Kohler Black Friday 2025: Diskon 10% untuk Kamar Mandi & Dapur

Dia menekankan bahwa seluruh kemitraan dengan luar negeri diarahkan oleh prinsip-prinsip kunci, termasuk transfer teknologi, peningkatan kemampuan domestik, dan perlindungan data kesehatan sensitif.

Wamenkes itu menyatakan harapan agar laboratorium bersama ini akan semakin mempererat hubungan bilateral Indonesia-China, khususnya di sektor kesehatan, sekaligus langsung mendukung prioritas nasional seperti eliminasi TBC dan perbaikan layanan kesehatan primer.

Berita terkait: Indonesia adopsi model era COVID untuk eliminasi tuberkulosis pada 2030

Reporter: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar