Walaupun harga saham masih naik tingi, penurunan pasti akan terjadi suatu saat nanti.
Satu indikator pasar saham sudah pernah memprediksi pasar bear dengan benar di masa lalu.
Tapi, itu tidak berarti penurunan akan segera terjadi.
10 saham yang kami lebih suka daripada S&P 500 Index ›
S&P 500 (SNPINDEX: ^GSPC) terus buat rekor baru di tahun 2026, naik hampir 21% dalam 12 bulan terakhir dan sekitar 41% sejak titik terendahnya di April tahun lalu, pada saat tulisan ini dibuat.
Banyak investor senang karena ini, tapi ada juga yang khawatir kalau pasar bull ini mau berakhir. Tidak ada yang tau kapan penurunan berikutnya akan mulai, tapi saham pasti akan turun suatu saat. Dan menurut satu metrik pasar saham yang populer, investor mungkin harus mulai bersiap-siap.
Gambar: Getty Images.
Ada banyak metrik pasar saham, tapi salah satu yang populer adalah indikator Buffett. Dinamakan dari Warren Buffett, metrik ini mengukur rasio antara produk domestik bruto (PDB) AS dan kapitalisasi pasar saham AS. Buffett mempopulerkannya di awal tahun 2000-an setelah dia pakai untuk memprediksi pecahnya gelembung dot-com.
Dalam wawancara dengan majalah Fortune tahun 2001, Buffett jelaskan alasan dia kenapa metrik ini bisa memprediksi pasar bear.
“Bagi saya, pesan dari grafik itu adalah: Jika persentasenya turun ke area 70% atau 80%, membeli saham kemungkinan akan sangat menguntungkan untuk anda,” katanya. “Jika rasionya mendekati 200% – seperti di tahun 1999 dan sebagian 2000 – anda sedang bermain api.”
Saat ini, rasio indikator Buffett ada di 222%. Terakhir kali mendekati 200% adalah di November 2021, saat mencapai tinggi sekitar 193%. Beberapa bulan kemudian, S&P 500 mulai jatuh ke pasar bear yang berlangsung hampir sepanjang tahun itu.
Tidak ada metrik pasar saham yang 100% akurat. Kalau ada, kita semua bisa timing the market dengan sempurna. Indikator Buffett punya kritik, dan seiring valuasi perusahaan melonjak, metrik ini mungkin tidak seakurat dua dekade lalu.
Tapi, fakta bahwa metrik ini ada di level tertinggi bisa jadi peringatan untuk investor. Ini tidak berarti pasar bear atau resesi akan segera datang, dan pasar mungkin masih bisa naik lagi sebelum penurunan berikutnya. Tapi ini bisa jadi peringatan untuk lebih hati-hati saat memutuskan mau investasi dimana.
Sekarang adalah waktunya bagi investor untuk mempersiapkan portofolio mereka. Periksa lagi apakah semua saham anda berasal dari perusahaan yang solid dengan potensi pertumbuhan jangka panjang. Perusahaan yang kuat punya fondasi untuk bertahan di tengah gejolak pasar, dan ini lebih penting dari sebelumnya.
Jika anda punya saham yang sudah tidak sehat, sekarang bisa jadi waktu yang tepat untuk melepasnya selagi harga masih naik. Sekali lagi, tidak ada indikator pasar saham yang bisa bilang apa yang akan dilakukan pasar dalam waktu dekat. Tapi, dengan mengambil langkah untuk melindungi portofolio anda dari sekarang, anda akan lebih siap untuk penurunan berikutnya – kapanpun itu dimulai.
Sebelum anda beli saham S&P 500 Index, pertimbangkan ini:
Tim analis Motley Fool Stock Advisor baru saja mengidentifikasi 10 saham terbaik untuk dibeli investor sekarang… dan S&P 500 Index tidak masuk di dalamnya. 10 saham yang terpilih bisa memberikan keuntungan besar di tahun-tahun mendatang.
Contohnya ketika Netflix masuk daftar ini tanggal 17 Desember 2004… jika anda investasi $1,000 saat rekomendasi kami, anda akan punya $474,578!* Atau ketika Nvidia masuk daftar ini tanggal 15 April 2005… jika anda investasi $1,000 saat rekomendasi kami, anda akan punya $1,141,628!*
Perlu dicatat, total rata-rata pengembalian Stock Advisor adalah 955% — jauh mengalahkan pasar dibandingkan 196% untuk S&P 500. Jangan lewatkan daftar 10 teratas terbaru, tersedia dengan Stock Advisor, dan bergabunglah dengan komunitas investasi yang dibangun oleh investor individu untuk investor individu.
*Pengembalian Stock Advisor per 17 Januari 2026.
Katie Brockman tidak memegang posisi di saham yang disebutkan. The Motley Fool tidak memegang posisi di saham yang disebutkan. The Motley Fool punya disclosure policy.
The S&P 500 Is Surging in 2026, but This Stock Market Indicator Could Be Sending a Warning Signal to Investors awalnya diterbitkan oleh The Motley Fool