Program Makanan Gratis Indonesia Didorong Terapkan Model Bebas Sampah

Jakarta (ANTARA) – Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono menekankan bahwa program Makanan Bergizi Gratis (MBG) harus disertai upaya pengurangan polusi, pengelolaan limbah makanan, dan perlindungan lingkungan.

"Kementerian Lingkungan Hidup berupaya memastikan program ini dapat memberikan gizi terbaik bagi seluruh anak bangsa tanpa merusak lingkungan," ujarnya dalam keterangan pada Jumat (14/3).

Pernyataan itu disampaikan usai memantau dua unit layanan pemenuhan gizi (SPPG), atau dapur MBG—yaitu SPPG Banyuanyar dan SPPG Busukan—di Surakarta, Jawa Tengah, pada Kamis.

Dalam kesempatan tersebut, dia menyerahkan tiga unit komposter kepada masing-masing SPPG untuk mendukung pengolahan sampah organik yang lebih efektif.

Di SPPG Banyuanyar, yang melayani lebih dari 3.000 penerima manfaat, wamen mengapresiasi sistem pengelolaan limbah cair dan sampah organik yang sudah berjalan baik, termasuk daur ulang minyak goreng bekas.

Terkait isu lingkungan yang sebelumnya diadukan warga, pengelola SPPG menunjukkan respons cepat dan efektif dengan membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

Fasilitas ini dilengkapi dengan grease trap, kolam infiltrasi, bak pengolahan aerob dan anaerob, serta filter mekanis.

Sementara di SPPG Busukan, yang melayani sekitar 3.100 penerima manfaat, Hendropriyono meninjau fasilitas yang telah memiliki grease trap dan sistem pengolahan sampah organik.

Namun, untuk pengelolaan limbah cair, SPPG Busukan saat ini masih mengandalkan fasilitas pemerintah kota. Sebagai bentuk dukungan, komposter diberikan untuk memperkuat pengelolaan sampah dari hulu.

Dia menegaskan kembali komitmen Kementerian Lingkungan Hidup untuk memastikan setiap SPPG menerapkan standar pengelolaan lingkungan yang seragam guna mencapai konsep zero-waste dalam program ini.

Program MBG diluncurkan pemerintah Indonesia pada 6 Januari 2025 sebagai salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto, bertujuan memperbaiki status gizi balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak sekolah hingga jenjang SMA.

MEMBACA  Tetap Teguh pada Sikap Non-Blok Setelah Masuk BRICS: Sugiono

Dengan menargetkan 82,9 juta penerima manfaat, program ini termasuk salah satu inisiatif pemerintah terbesar yang pernah dijalankan di Indonesia.

Berita terkait:

  • Gerakan Indonesia Selamatkan Pangan Cegah 224 Ton Sampah sejak 2022
  • Indonesia Kaji Ubah Limbah Pangan MBG Jadi Kredit Karbon

    Penerjemah: Prisca Triferna, Raka Adji
    Editor: M Razi Rahman
    Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar