Bagaimana Pikiran Ratusan Bekerja dalam ‘Pluribus’?

Tahu nggak sih, yang bikin seru dari serial kayak Pluribus? Justru karena kita nggak benar-benar paham apa yang terjadi, jadi kita bisa berteori. Mirip kayak kehidupan nyata! Kalau kamu belum nonton serial ini yang baru aja tamat musim pertamanya, nih ringkasannya:

Sebuah transmisi radio tiba dari planet yang jaraknya 600 tahun cahaya, dan pesannya ternyata adalah kode RNA untuk virus alien. Seorang yang kurang ajar mensintesisnya, dan virus itu menginfeksi hampir semua orang di Bumi, menyebabkannya bertindak sebagai satu entitas—sebuah pikiran kolektif dengan tujuan, nilai, pengetahuan, dan segalanya yang sama. Judul serial ini berasal dari motto lama AS, “E pluribus unum”—dari banyak, menjadi satu.

Hanya 13 orang yang tetap kebal, termasuk Carol Sturka, seorang novelis roman yang keras kepala yang bertekad mempertahankan individualitasnya, melawan segala upaya kolektif untuk menyerapnya. Kita tidak tahu pasti bagaimana pikiran kolektif ini bekerja, tapi tampaknya para ‘plurb’ (orang-orang yang terinfeksi) berkomunikasi satu sama lain secara tidak sadar melalui gelombang radio. Bicara dengan satu dari mereka, dan kamu bicara dengan semuanya.

Ini ada keuntungannya. Misalnya, nggak perlu hafal nomor telepon. Kamu bisa telepon nomor berapa pun dan “orang” yang sama yang menjawab. Kerugiannya adalah mereka bukan benar-benar seorang individu.

Nah, kalau teori radio ini benar, bagaimana kesadaran kolektif ini bisa beroperasi dari sudut pandang fisika? Mari kita selidiki!

Apa Itu Gelombang Radio dan Bagaimana Membuatnya?

Kalau-kalau kamu lupa (atau tidak pernah tahu), dulu kita mendengarkan musik lewat alat yang disebut radio. Ada dua tipe stasiun: radio AM dengan frekuensi siar 535 sampai 1.700 kilohertz (kHz) dan radio FM dari 88 sampai 108 megahertz (MHz).

MEMBACA  Jawaban Teka-Teki Silang Mini NYT Hari Ini, 28 Agustus

Nah, gelombang radio adalah gelombang elektromagnetik. Artinya, mereka terdiri dari medan listrik dan magnet yang berosilasi. Dengan kata lain, mereka adalah sejenis cahaya, bersama dengan cahaya tampak, inframerah, gelombang mikro, sinar-X, dan sebagainya, yang hanya berbeda dalam frekuensi dan panjang gelombang. Gelombang radio berada di satu ujung spektrum elektromagnetik, dengan frekuensi terendah dan panjang gelombang terpanjang. Itu yang membuatnya ideal untuk komunikasi jarak jauh.

Oke. Tapi bagaimana cara membuat gelombang radio? Karena gelombang elektromagnetik menggunakan medan listrik yang berubah, kamu bisa menginduksi gelombang dengan mempercepat muatan listrik. Stasiun radio yang sudah tidak kamu dengar lagi itu punya kabel listrik yang sangat besar disebut antena. Arus listrik naik-turun di sepanjang kabel itu, mempercepat elektron. Jadilah gelombang radio kamu.

Tapi, bisakah tubuh manusia melakukan ini? Hmm… mungkin? Sistem saraf kita pada dasarnya adalah rangkaian listrik, meskipun “arus”-nya terdiri dari ion bermuatan, bukan elektron. Mungkin peradaban alien itu menemukan cara memanfaatkan ini.

Seberapa Jauh Para Plurb Bisa Berkomunikasi?

Jadi jika kita benar, setiap mantan manusia sekarang pada dasarnya adalah pemancar dan penerima radio. Satu plurb mengirimkan sinyal yang dideteksi oleh yang lain, yang kemudian meneruskannya ke plurb lain, dan seterusnya. Kedengarannya seperti semacam jaringan *mesh* yang terdesentralisasi. Tapi seberapa jauh satu plurb bisa memancarkan sinyal?

Pertama, mari kita perkirakan daya pancar total transmisinya—jumlah energi yang dipancarkan per detik. Sistem metabolisme seseorang menghasilkan sekitar 80 watt daya saat istirahat, dan ini digunakan untuk fungsi dasar seperti bernapas, memompa darah, mencerna makanan, dan sebagainya. Untuk seorang plurb, katakanlah 10 persennya dialokasikan untuk transmisi radio, jadi 8 watt.

MEMBACA  Hotel-hotel Indonesia Terdekat dan Terjauh dari Masjid Nabawi dalam Jarak 50 hingga 350 Meter

Mari kita asumsikan juga bahwa plurb adalah pemancar “isotropik”, artinya mereka memancarkan energi ke semua arah secara merata, seperti di logo lama RKO Radio Pictures. Saat energinya memancar keluar, daya itu tersebar di atas permukaan bola yang mengembang. Daya total tetap sama seperti di sumbernya (P0), tapi daya per satuan luas, yang kita sebut intensitas (I), menurun. Artinya, kekuatan sinyal berkurang seiring jarak (r). Dengan mengetahui luas permukaan bola, kita bisa dengan mudah menghitung intensitasnya:

Tinggalkan komentar