Jakarta (ANTARA) – Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan konsep ekoteologi dalam Peringatan Nasional Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW di Masjid Istiqlal Jakarta. Konsep ini disebutnya sebagai jawaban atas berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini.
“Dalam peringatan ini kami menekankan ekoteologi. Ini sangat tepat karena kita memperingati Isra Mikraj di saat masyarakat sedang diuji, sekaligus memberi semangat bagi yang terdampak,” kata Nasaruddin di Jakarta, Kamis malam.
Acara peringatan Isra Mikraj tingkat nasional ini dihadiri sejumlah pejabat tinggi, termasuk Menteri Lingkungan Hidup Fadli Zon dan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq. Hanif menyampaikan khutbah kunci dalam acara tersebut.
Nasaruddin menyatakan setiap kesulitan yang dialami manusia harus dipahami sebagai ujian yang mengarah pada peningkatan kualitas hidup. Menurutnya, selalu ada hikmah yang bisa diambil dari setiap cobaan.
“Kami ingin meyakinkan publik bahwa ini adalah ujian. Di mana ada ujian, di situ ada peningkatan. Tuhan akan meninggikan derajat masyarakat kita,” ujarnya.
Pada tingkat nasional, Nasaruddin menekankan bahwa pesan Isra Mikraj tetap relevan untuk memperkuat persatuan dan toleransi antarumat beragama.
Ia menegaskan toleransi bukan berarti menghapus perbedaan, tetapi menerima keberagaman tanpa menciptakan jarak sosial.
“Toleransi berarti membiarkan perbedaan tetap ada sambil menjaga kesamaan. Yang penting perbedaan tidak menyebabkan perpecahan,” jelasnya.
Dalam khutbah kuncinya, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyatakan Isra Mikraj adalah peristiwa monumental yang tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga pengingat akan tanggung jawab manusia untuk menjaga alam ciptaan Tuhan.
Dia mencatat bahwa tema ekoteologi dalam peringatan ini sangat relevan di tengah krisis lingkungan yang dihadapi global saat ini.
“Berkah dalam Al-Qur’an bukan hanya berkah spiritual, tetapi juga berkah ekologis—tanah yang subur, air yang melimpah, dan kehidupan yang berkelanjutan. Ungkapan ini memberikan pesan yang sangat kuat. Tempat-tempat suci dalam Islam selalu terkait erat dengan lingkungan yang terpelihara,” kata Hanif.
Dia menekankan bahwa kesucian spiritual tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan ekologis. Dalam peristiwa Isra Mikraj, Nabi Muhammad SAW menyaksikan struktur langit yang tertib, di mana setiap lapisan memiliki fungsi dan keteraturannya sendiri.
“Ini menunjukkan bahwa alam semesta berjalan sesuai dengan hukum keseimbangan dan keteraturan ilahi,” tambahnya.
Berita terkait: Kemenag Kumpulkan Rp155 Miliar untuk Bantu Korban Banjir Sumatra
Berita terkait: Indonesia Akan Terapkan Ekoteologi dan Kerukunan Sosial dalam Kebijakan Publik
Penerjemah: Asep, Azis Kurmala
Editor: M Razi Rahman
Hak Cipta © ANTARA 2026