Mataram (ANTARA) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk tetap waspada karena puncak musim hujan di wilayah tersebut diperkirakan terjadi pada dasarian kedua Januari 2026.
NTB telah sepenuhnya memasuki musim hujan, dengan beberapa wilayah mendekati masa puncaknya, menurut Nindya Kirana, prakirawati Stasiun Klimatologi BMKG NTB, dalam keterangannya pada Senin.
Data BMKG menunjukkan bahwa intensitas hujan di wilayah tersebut menurun selama dasarian pertama Januari 2026, yaitu tanggal 1 sampai 10 Januari. Kondisi ini terkait dengan monsoon break, yaitu periode berkurangnya curah hujan yang biasa terjadi saat musim hujan di Asia Tenggara.
Meski ada penurunan baru-baru ini, Kirana menyebut masyarakat harus tetap berhati-hati, karena hujan lebat masih berpeluang terjadi dalam periode mendatang saat puncak musim hujan.
Dia mengimbau warga untuk menjaga kebersihan dan memastikan aliran air di saluran drainase lancar, sekaligus tetap waspada terhadap potensi hujan ekstrem yang tiba-tiba dan angin kencang.
BMKG memprakirakan potensi hujan tinggi pada periode 11-20 Januari 2026 akan tersebar relatif merata di Pulau Lombok dan Sumbawa.
Peluang hujan sebesar 70 hingga 90 persen, dengan intensitas melebihi 50 milimeter per dasarian, diprakirakan terjadi di Pulau Lombok, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Sumbawa, dan Kabupaten Bima.
Wilayah-wilayah seperti Tambora, Sanggar, Pekat, dan Labuhan Badas diproyeksikan memiliki peluang 60 hingga lebih dari 90 persen untuk mengalami curah hujan melebihi 100 milimeter per dasarian.
Sementara itu, bagian utara dan selatan Pulau Lombok diprakirakan memiliki probabilitas 50 hingga 70 persen untuk curah hujan melebihi 100 milimeter per dasarian.
Hujan tinggi dengan indikasi tingkat waspada pada dasarian kedua Januari 2026 diperkirakan terjadi di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, dan Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, kata Kirana.
Pada dasarian pertama Januari 2026, BMKG mencatat karakteristik hujan di NTB berkisar dari bawah normal hingga atas normal. Curah hujan tertinggi diamati di pos pengamatan hujan Donggo O’o di Kabupaten Bima, dengan curah hujan mencapai 378 milimeter per dasarian.
Peningkatan curah hujan didukung oleh beberapa faktor atmosfer, termasuk anomali suhu muka laut minus 0,7 derajat Celcius yang mengindikasikan kondisi La Nina lemah yang diproyeksikan bertahan hingga awal 2026.
Selain itu, angin baratan yang masih berlangsung terus membawa uap air dari Samudra Hindia ke wilayah NTB, sementara aktivitas gelombang atmosfer diprakirakan tetap aktif di atas Indonesia hingga dasarian kedua Januari 2026.
Berita terkait: Indonesia siapkan 5.755 alat berat untuk hadapi musim hujan
Berita terkait: BNPB minta daerah bersiap hadapi potensi banjir dan cuaca ekstrem
Penerjemah: Sugiharto Purnama, Katriana
Editor: Primayanti
Hak Cipta © ANTARA 2026