Jakarta (ANTARA) – Mantan presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri, pada Sabtu dengan tegas mengutuk intervensi militer Amerika Serikat baru-baru ini di Venezuela. Ia menyebutnya sebagai tindakan neokolonialis yang melanggar kedaulatan nasional dan mengancam pondasi tatanan internasional.
Putri dari presiden pendiri Indonesia, Soekarno, menyampaikan pernyataan ini dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Pernyataan itu disampaikan saat peringatan hari ulang tahun partai ke-53 dan pembukaan Rapat Kerja Nasional pertamanya tahun 2026 di Jakarta Utara.
“PDIP mengecam segala bentuk intervensi militer AS di Venezuela, termasuk penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya,” kata Megawati. Ia menggambarkan operasi tersebut sebagai aksi yang memicu keprihatinan luas di dunia internasional.
Megawati, yang menjabat sebagai presiden kelima Indonesia dari 2001 hingga 2004, mengatakan aksi AS pada awal Januari itu merupakan pukulan berat bagi upaya global untuk menjaga perdamaian dan stabilitas. Hal itu juga mengikis kepercayaan terhadap sistem internasional.
Ia menyatakan operasi itu mencerminkan “neokolonialisme dan imperialisme modern.” Megawati memperingatkan bahwa tindakan semacam itu secara langsung menantang Piagam PBB dan prinsip-prinsip inti yang mengatur hubungan antar negara berdaulat.
Berita terkait: Indonesia peringatkan serangan AS ke Venezuela berisiko ciptakan preseden berbahaya
Megawati mengulang penolakan Indonesia yang sudah lama terhadap kolonialisme dalam segala bentuknya. Ia mengingatkan kembali semangat Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, yang menyerukan solidaritas antar bangsa untuk melawan dominasi dan kontrol asing.
“Bangsa Indonesia menolak segala tatanan internasional yang berupaya membenarkan penggunaan kekuatan untuk merusak kedaulatan negara lain,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa praktik semacam itu bertentangan dengan nilai-nilai kesetaraan dan saling menghormati.
Ia juga menekankan bahwa PDIP mendukung upaya bangsa-bangsa untuk menyelesaikan sengketa melalui dialog dan diplomasi. Menurutnya, keterlibatan secara damai tetap menjadi satu-satunya jalan yang berkelanjutan menuju solusi yang langgeng.
Megawati menyatakan keyakinannya bahwa kekuatan militer tidak akan pernah menghasilkan keadilan atau demokrasi sejati. Ia memperingatkan bahwa paksaan hanya memperdalam penderitaan dan ketidakstabilan.
“Demokrasi sejati tidak lahir dari senjata, keadilan tidak muncul dari agresi sepihak, dan peradaban tidak pernah dibangun dengan menginjak-injak martabat bangsa yang berdaulat,” tegasnya.
Berita terkait: Kelompok pemuda Indonesia kecam aksi militer AS di Venezuela
*Penerjemah: Walda M, Tegar Nurfitra
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026*