Jakarta (ANTARA) – Indonesia meningkatkan upaya menangani kayu apung dan puing lainnya dari bencana banjir di Sumatra. Ratusan batang kayu telah dicatat untuk potensi penggunaan masyarakat, menurut Kementerian Kehutanan pada Selasa.
Tim gabungan kementerian telah mengerahkan 28 unit alat berat untuk membersihkan tumpukan kayu yang menghalangi jalan, permukiman, dan fasilitas pendidikan di Langkahan, Aceh Utara, kata Kepala Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Subhan.
Hingga Senin, pihak berwenang mencatat 300 batang kayu dengan total 469,26 meter kubik yang dapat dimanfaatkan, ujar Subhan.
“Kami memprioritaskan membersihkan kayu yang menghalangi akses jalan, kawasan perumahan, dan fasilitas publik. Kami menyortir dan mencatat kayu yang memiliki nilai guna untuk kebutuhan darurat warga,” jelasnya.
Penggunaan kayu oleh masyarakat dan lembaga kemanusiaan telah mendukung pembangunan tempat penampungan sementara, dengan dua unit sedang dibangun dan satu unit telah selesai.
Di Sumatra Utara, upaya tanggap pascabencana fokus di desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol di Tapanuli Selatan.
Tim gabungan telah mengerahkan 20 unit alat berat dan 10 truk angkut untuk penyortiran kayu, normalisasi sungai Garoga, pembersihan rumah warga, dan pemulihan lingkungan.
Beberapa segmen pekerjaan penyortiran kayu telah mencapai 100 persen penyelesaian sesuai rencana kerja yang ditetapkan, tambah Subhan.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatra Utara Novita Kusuma Wardani menyatakan upaya ini dilakukan bersamaan dengan persiapan perumahan bagi warga terdampak.
“Selain pembersihan dan penyortiran kayu, kami juga mendukung penyiapan lahan untuk hunian sementara dan permanen. Kayu akan digunakan untuk kebutuhan darurat masyarakat sesuai regulasi,” ujarnya.
Pengukuran awal di kawasan Garoga mencatat 426 batang kayu dengan volume 253,85 meter kubik serta 154 potong kayu olahan berjumlah 4.236 meter kubik.
Di Sumatra Barat, Kementerian Kehutanan mengidentifikasi dan mengumpulkan data kayu apung di sepanjang Pantai Padang serta daerah aliran sungai Batang Kuranji dan Air Dingin.
Kepala BKSDA Sumatra Barat Hartono mengatakan proses pengumpulan data masih berlangsung.
“Kami sedang mengumpulkan data jumlah dan jenis kayu apung di beberapa lokasi. Ini akan menjadi dasar pemanfaatan kayu apung setelah tim pemanfaatan dibentuk melalui keputusan gubernur,” katanya.
Kementerian menyatakan upaya tanggap pascabencana akan disertai pembaruan data rutin untuk memastikan pemanfaatan kayu apung bagi masyarakat terdampak berjalan tertib dan transparan.
Berita terkait: Indonesia percepat pemindahan kayu apung usai banjir Sumatra
Berita terkait: Kementerian izinkan publik gunakan kayu apung dari puing banjir
*Penerjemah: Prisca Triferna, Resinta Sulistiyandari
Editor: Anton Santoso
Hak Cipta © ANTARA 2026*