Jakarta (ANTARA) – Lembaga logistik milik negara, Perum Bulog, telah bermitra dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menerapkan teknologi baru dalam menjaga stok beras nasional. Tujuannya adalah mencegah serangan hama, menjaga kualitas, dan memperkuat ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan.
Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan koordinasi dengan BRIN telah dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga cadangan beras pemerintah yang dikelola perusahaan.
"Kami sudah koordinasi dengan Kepala BRIN. BRIN akan mendukung kami dalam perawatan beras ke depannya memakai teknologi baru," kata Rizal dalam konferensi pers tentang Capaian Kunci 2025 dan Langkah Strategis 2026 Bulog di Jakarta, Jumat.
Meski belum mengungkapkan detail teknologi yang akan digunakan, Rizal menekankan kerja sama ini bertujuan melindungi kualitas cadangan beras pemerintah yang saat ini tercatat 3,25 juta ton. Stok ini terdiri dari beras sisa tahun 2025 yang dibawa ke 2026.
Kolaborasi Bulog-BRIN memperkenalkan teknologi perawatan beras inovatif yang dikembangkan dalam negeri, dirancang untuk meningkatkan daya tahan stok tanpa bergantung pada teknologi asing dalam sistem logistik pangan nasional.
Teknologi ini diklaim dapat membantu menjaga beras lebih sehat dan mempertahankan kualitas yang stabil dalam jangka panjang.
"Tidak perlu menggunakan teknologi luar negeri. Teknologi Indonesia sudah maju. Syukurlah, Kepala BRIN menginformasikan kemarin ada teknologi baru agar beras lebih sehat, kuat, dan awet," ujar Rizal.
Dia menambahkan, Bulog akan menindaklanjuti kerja sama ini melalui diskusi teknis lebih lanjut untuk memastikan teknologi dapat diimplementasikan secara efektif di semua gudang penyimpanan beras milik negara.
"Kami akan follow up dan mendiskusikannya lebih lanjut dengan Kepala BRIN agar bisa diterapkan di Bulog," katanya.
Rizal juga menegaskan kembali komitmen Bulog untuk menjaga kualitas beras dari Sabang sampai Merauke melalui sistem pemantauan berlapis yang konsisten.
Saat ini, Bulog menerapkan pendekatan perawatan bertingkat yang melibatkan inspeksi harian, mingguan, bulanan, triwulanan, dan semesteran.
Setiap indikasi penurunan kualitas atau gangguan hama, kata dia, segera ditangani dengan langkah percepatan seperti fumigasi terkendali untuk mencegah masalah menyebar ke stok lain.
"Supaya indikasi penyakit atau serangan hama tidak menyebar ke stok beras lainnya," kata Rizal.
Upaya perawatan ini menjadi prioritas strategis Bulog untuk memastikan beras tetap sehat, tahan lama, dan awet sepanjang penyimpanan dan distribusi di seluruh Indonesia.
"Bulog selalu berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kualitas setiap produk beras," ucap Rizal.
Sebelumnya, temuan beras terkena hama di gudang Bulog menarik perhatian Komisi IV DPR.
Ketua Komisi IV, Siti Hediati Soeharto atau dikenal sebagai Titiek Soeharto, mengungkapkan beras impor ditemukan terkena hama di sebuah gudang Bulog saat kunjungan kerja ke Yogyakarta.
"Pada reses lalu, dalam kunjungan kerja kami sebelumnya, saya memimpin tim ke Yogyakarta dan memeriksa gudang Bulog. Di sana, kami menemukan banyak sisa beras impor di gudang Bulog yang sudah sangat terkena hama," kata Titiek dalam rapat kerja dengan Kementerian Pertanian, Selasa, 11 Maret 2025.
Translator: Muhammad Harianto, Primayanti
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026